RUMAH TANGGA IBARAT MOBIL, CINTA ADALAH BAHAN BAKARNYA

Oleh: Rena Puspa

Meski pahala menikah setara dengan menggenapkan setengah dien, tidak banyak orang yang gigih mempelajarinya. Banyak orang serius belajar agar sukses pendidikan, karier, atau bisnis. Akan tetapi, tidak banyak yang bercita-cita sukses menumbuhkan dinamika pernikahan. Makin ironisnya, kebanyakan orang lebih bangga berjibaku dengan percepatan karier dibanding mempelajari ilmu rumah tangga.

Padahal, pernikahan adalah wadah tumbuh kembang mental setiap insan. Dan ilmu adalah modal penting untuk membina rumah tangga. Saat kondisi pernikahan sehat, seseorang dapat lebih sukses meraih prestasi diri. Karier suami melesat. Potensi istri kian tergali. Kemudian, keduanya akan berpadu menjadi entitas yang dahsyat.

 

 

Bagi mereka yang masih melajang, mempelajari ilmu pernikahan dapat memperbaiki atau bahkan mengubah mindset hidup. Mayoritas orang berlomba-lomba mengumpulkan bekal berupa gelar akademik, pekerjaan, kemapanan fi nansial, dan elemen-elemen common sense yang bersifat duniawi. Dengan kelurusan mindset, menikah bukan lagi sesuatu yang ditempatkan di dead last rancang hidup. Tapi justru berada di urutan utama. Dia kemudian menjadi kendaraan yang mengantarkan kita

meraih kemuliaan. Hal-hal keduniawian yang sebelumnyadiklaim sebagai bekal –gelar akademik, pekerjaan, kemapanan finansial, dst– juga dapat diraih oleh mereka yang membangunpernikahan berdasarkan ilmu yang shahih.

Sejatinya, Allah menciptakan pernikahan sebagai pemoles potensi manusia. Agar potensi pasangan yang dinaungi pernikahan mampu melaju hingga titik maksimal. Hasil polesan ini adalah insan-insan super yang siap menyongsong berbagai target diri. Maka, bagi orang yang berilmu hilang alasan-alasan untuk menjadikan menikah capaian kesekian.

Setelah mindset diperbaiki, jomblowan dan jomblowati dapat lebih mampu memaparkan track hidup dengan jelas. Hal ini membuat mereka makin mantap mempersiapkan diri. Dan, ancang-ancang yang diambil tentu bukanlah jalan terlarang berupa pacaran. Bukan pula buru-buru menikah tanpa pikir panjang tanpa pertimbangan. Persiapan di sini adalah persiapan yang sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan Allah SWT. Persiapan lahir dan batin mesti dilakukan dengan cara-cara yang mendatangkan rahmat-Nya. Pun demikian dengan usaha menjemput jodoh. Terlebih lagi jodoh kitalah yang nantinyamenjadi partner dalam pemolesan diri. Perbaikan mindset, dalam kerangka pikir pasangan yang telah menikah, dapat menyegarkan cinta.

Terkadang kita menemukan pernikahan minim konfl ik yang tampak tenang. Namun, kondisi yang demikian perlu diwaspadai. Pasangan seperti ini justru seringkali lalai dan lupa menyirami cinta yang ada. Mereka memilih membiarkan laju rumah tangga mengalir seperti air, tanpa tujuan yang jelas. Cinta pun meranggas, lalu masing-masing pihak terjebak rutinitas, di mana tidak ada lagi ruh cinta di dalamnya. Kemalasan meng-up-grade cinta adalah jebakan mematikan. Suami istri sudah merasa aman. Padahal bahaya tengah mengintai. Sangat urgen kiranya merawat eksistensi cinta dalam rumah tangga. Cintalah yang mendorong produksi energi dalam pernikahan. Dengan semerbaknya cinta, penunaian kewajiban akan terasa indah dan menjadi kebutuhan. Tatkala cinta terus

menggelora, suami butuh mengayomi istri. Di saat bersamaan, istri butuh taat kepada suami. Jika pernikahan diibaratkan mobil, cinta adalah bahan bakar. Oleh karenanya, jika bahan bakar habis, mogoklah mobil kita. Demikian fungsi cinta dalam pernikahan. Yang perlu kita catat baik-baik, cinta ini haruslah cinta yang bersumber dari Allah SWT. Mengembalikan semua cinta hanya kepada Allah, membuat pola cenderung sederhana namun tepat sasaran. Konsep cintai aku dengan sederhana yang didasari tauhid, membuat suami istri mampu saling membahagiakan. Hingga titik ini seharusnya kita sadar, sakinah, mawaddah, wa rahmah, takkan terealisasi jika tidak ada ilmu yang melandasi.

Ketika pernikahan ditumbuhi bunga-bunga cinta, segala permasalahan lebih mudah diselesaikan. Kenakalan anak,kestresan istri, dan keterpurukan karier suami, akan ditemukan titik terangnya. Namun, menjaga pertumbuhan cinta bukan perkara gampang. Baik suami maupun istri harus terus menerus belajar. Proses belajar ini bahkan bisa memakan waktu hingga sepanjang hidup. Sesuai penciptaannya, manusia selalu membutuhkan perubahan demi keseimbangan hidup. Proses penjagaan cinta pun harus seiring sejalan dengan dinamika perubahan ini. Jika tidak, pernikahan akan kehilangan ruh.

Perkara menyiram tumbuhan bernama cinta, tentu saja tidaklah melulu berhubungan dengan bunga bertebaran atau makan malam romantis, tetapi lebih dalam dari itu. Oleh karenanya, kita harus senantiasa belajar, belajar, dan belajar. Dalam pengantar, saya menyatakan, menjadi sosok shaleh atau shalehah saja tidak menjamin seseorang menjadi suami shaleh atau istri shalehah. Pernyataan ini saya lontarkan bukan tanpa alasan. Karena, meskipun sumber cinta berasal dari kecintaan dan ketaatan kepada Allah, mentransformasi cinta pada-Nya menjadi cinta kepada sesama manusia bukan  pekerjaan sim salabim. Banyak orang taat, lalai menunaikan kewajiban pernikahan. Dalihnya sepele; ketidaktahuan. Mereka kurang ilmu dan tidak paham cara mentransformasi cinta Allah menjadi cinta terhadap pasangan.

Islam telah mengatur pemenuhan kewajiban ini tepat sesuai fitrah manusia. Tidak ada satu pun kewajiban yang Allah bebankan di luar kesanggupan hamba-Nya. Ketika pasangan suami istri kenal betul dengan dirinya, maka pemenuhan kewajiban akan mengalir indah tanpa paksaan. Jika telah mencapai titik ideal ini, kedua pihak akan saling berebut menunaikan kewajiban, dan otomatis hak akan terpenuhi dengan sendirinya. Harmonisasi seperti inilah yang diimpikan semua pasangan. Tidak ada lagi jeritan-jeritan saling meminta hak, karena semua sadar peran dan posisi.

Pewujudan kondisi ideal tadi memerlukan ilmu. Pun ilmu yang ada tidak bisa dilaksanakan secara serta-merta. Semuanya perlu diaplikasikan sesuai keunikan dan karakteristik setiap individu. Maka mengenali diri sendiri dan pasangan adalah hal mutlak. Dengan kondisi manusia yang terus mengalami perubahan, satu lagi tantangan yang harus dipecahkan; pengenalan Anda terhadap pasangan harus senatiasa sinambung dan up to date.

 


INFO BUKU


 

Judul: Kugapai Bahagia Bersamamu

Penulis: Rena Puspa

ISBN: 978-602-1614-91-4

Harga: Rp 35.000,-

 

Kala lelaki dan perempuan memutuskan bersatu dalam simpul indah pernikahan, ada visi besar yang hadir di bayangan mereka. Berbahagia dan membahagiakan pasangan di bawah naungan payung sakinah, mawadah, wa rahmah, bermegah dalam kepala. Namun, mengaktualisasikan visi ini dalam gerak konkret tidak semudah membalik telapak tangan. Ada berhimpun aral yang siap menggoncang. Ada serangkum ujian yang siap menghantam.
 
Perkara menikah ternyata bukan hanya berbicara suka, melainkan juga duka dan lara. Keindahan pelaminan hanya bertahan sehari saja. Selanjutnya, dua anak manusia mulai mengarungi samudera kehidupan rumah tangga yang sebenarnya. Mereka menyempurnakan separuh agama, menggapai bahagia bersama.
 
Rena Puspa menawarkan penelusuran-penelusuran menarik tentang cara-cara mewujudkan visi tersebut. Bagaimana melejitkan potensi diri selaras dengan aliran pernikahan. Bagaimana memadukan suami istri menjadi simfoni yang dahsyat dan cemerlang. Buku ini mengajak pembaca meluruhkan resah lelah dengan memurnikah fitrah dan menyemarakkan cinta dalam rumah tangga. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *