Sastra Hijau dan Nilai Keislaman

18789742_10209180815382443_493733223_o

Oleh Muhammad Rasyid Ridho 

 

Adalah Anton Yosef Maringka seorang mahasiswa biologi yang lebih sering kuliah di alam sebagai pecinta alam (Mapala). Di kampus dia selalu menjadi leader para Mapala, bahkan dia juga disegani dan dianggap senior di luar kampus karena pengalamannya menjelajah alam yang cukup banyak.

Dalam prolog novel Akik dan Sang Penghimpun Senja karya Afifah Afra dia bertemu tokoh yang bernama Rinanti di pantai Klayar. Rinanti adalah perempuan yang menjual es degan di warung sederhana di pinggir pantai Klayar. Ketika itu Anton mampir ke warungnya, dan mereka berkenalan.

Ternyata mereka sama-sama menyukai senja, bahkan Rinanti sampai menghitung sudah berapa senja yang dia pandang selama berjualan di pinggir pantai Klayar. Sebenarnya, pertemuan saat itu cukup mengesankan bagi mereka berdua.

Sayangnya Rinanti sudah bersuami. Keduanya sama-sama menyayangkan hal tersebut dalam hati. Terutama Rinanti segera menghapus perasaan itu, meskipun rumah tangganya sungguh aneh, namun dia tetap ingin mempertahankannya. Dia menikah dengan Gunadi Hantayudha. Lelaki yang konon keturunan kerajaan mataram. Dalam wangsitnya dia harus menikah dengan Rinanti yang konon masih keturunan Putri Campa zaman Prabu Brawijaya (halaman 168). Dengan begitu, maka tidak akan terjadi musibah dan keinginan Gunadi akan tercapai. Gunadi adalah orang yang sakti mandraguna, dengan pernikahan yang dia anggap sebagai ritual saja, dia ingin kesaktiannya bertambah. Hal inilah yang membuat Rinanti merana, pernikahannya tanpa rasa atau lebih tepatnya, cinta yang dia usahakan tumbuh bertepuk sebelah tangan karena Gunadi hanya memikirkan kesaktiannya, tidak pernah memikirkan Rinanti. Kesaktiannya itu untuk memberi tuah di batu akik yang dia jual.

Tokoh lainnya adalah Fahira Azalea. Mahasiswa cerdas yang pengajuan proposal penelitiannya lolos seleksi. Kali ini penelitiannya sangat menantang dan bagi sebagian orang termasuk keluarganya, Fahira seharusnya tidak memilih meneliti Luweng Jaran. Nah, Luweng Jaran ini gua yang untuk memasukinya harus turun dulu ke bawah, selain itu guanya panjang dan banyak jalan yang membingungkan.

Bagi Anton yang sudah berpengalaman, Fahira keterlaluan mengajukan penelitian ini. Bagi Fahira penelitian ini sangat penting. Dana sudah cair, jadi dia tidak mau membatalkan dana dari penelitian internasionalnya ini. Di sinilah interaksi Fahira dan Anton dimulai. Ketika Fahira menegoisasi meminta bantuan anak-anak Mapala, semua sepakat akan membantu dan menemani Fahira, tetapi harus dengan Anton.

Sedangkan Anton, dia masih tidak bisa melupakan memori kelam yang baginya sangat menyedihkan. Dulu dia pernah menemani Anya, untuk berarung jeram yang berakhir dengan kematian Anya. Dia tidak ingin ada korban lagi dengan mengajak orang tak berpengalaman mengikuti kegiatan anak Mapala yang memang sudah melakukan latihan dan latihan.

Dengan gelagat bahwa Anton tidak suka, Fahira tidak langsung berbicara dengannya untuk mengajak kerjasama, negoisasi belum deal. Hingga, akhirnya Fahira langsung ngobrol dengan Anton, dan akhirnya Anton mau dengan syarat Fahira tidak mengajak siapapun dan Fahira mau mengikuti proses latihan dasar sebelum menyusuri gua (halaman 100).

Akik & Penghimpun Senja

Belakangan ini memang Afifah Afra menulis novel yang kerap dinamakan sastra hijau. Sebelumnya ada Kesturi dan Kepodang Kuning novel yang secara tidak langsung mengupas tentang eksploitasi alam yang berbahaya. Sedangkan Akik dan Penghimpun Senja, tentang menjaga dan mengelola gua dengan baik sehingga tidak membahayakan kehidupan semua makhluk hidup.

Tentu saja, Afra tidak meninggalkan karakter fiksi Islaminya. Novel ini menyisipkan nilai tauhid yang seharusnya ada dalam setiap Muslim. Kepercayaan kepada tuah, kesaktian dari jin adalah jenis syirik. Juga romantisme sepasang cucu adam dan hawa yang terjaga, dalam bingkai pernikahan yang sah nan halal.

Tak pelak, novel ini tidak hanya membuat penasaran, untuk menamatkan ke lembar halaman 322. Tetapi, juga penuh hikmah dan makna. Selamat membaca!


Muhammad Rasyid Ridho 

Adalah seorang pengajar Kelas Menulis di SD Plus Al-Ishlah Bondowoso. Karya-karya lainnya berupa cerpen, artikel, resensi, dan puisi juga dimuat di beberapa media offline maupun online, antara lain di Kompas, Jawa Pos, Koran Jakarta, Radar Surabaya, Jateng Pos, Malang Post, Republika, Harian Surya, Metro Riau, Majalah Matan,  Majalah Gizone, Majalah Sabili, Koran Kampus UMM Bestari, Okezone.com, Annida online, Eramuslim.com, Analisisnews.com, Dakwatuna.com, Fimadani.com, Rimanews.com, Wawasanews.com, Wasathon.com, Radarseni.com, NuSumenep.or.id, Berita99.com, MediaMahasiswa.com, Eramadinacom, Kompas.com, santrinews.com,   Minimagz Gen_M2. No hp: 085933138891 Norek: BNI cabang UMM an M.Rasyid Ridho 0202737477

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *