SEMANGAT BELAJAR DAN MENUNTUT ILMU

Sumber: Pixabay

 

Oleh: Ratnani Latifah

 

Jika dahulu pemerintah mewajibkan belajar  sembilan tahun, sekarang Kemendikbud (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia) mengupayakan untuk wajib belajar 12 tahun—yang artinya kita diwajibkan belajar dari jenjang Sekolah Dasar  (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA).  Upaya ini menunjukkan betapa pentingnya sebuah pendidikan bagi generasi  bangsa. Pendidikan merupakan aset untuk kemajuan bangsa juga saran untuk meraih kesuksesan. Oleh sebab itu kita harus memiliki semangat belajar dan menuntut ilmu. Kita tidak boleh menyerah hanya karena keadaan atau alasan lainnya.

“Harta seluas lautan sekalipun akan habis tergilas waktu, namun ilmu bermanfaat walau sedikit akan abadai menyelamatkan jiwa raga hingga ke akhirat. Maka sekolah dan tuntutlah ilmu, kelak ilmu dan pendidikan akan menyelamatkan kita dunia dan akhirat.” (hal 4).

Mengambil tema tentang pendidikan yang dipadukan dengan persahabatan, buku memiliki cukup banyak sisi menarik untuk dijadikan bacaan sehat bagi anak. Karena melalui buku ini anak  diajak untuk memiliki kepedulian kepada sesama, saling menghargai, berani bermimpi,  serta untuk memiliki semangat belajar dan menuntut ilmu. Pesan tersebut juga dipadukan dengan unsur lokalitas yang kental, hal itu semakin menjadi daya tarik tersendiri dari novel anak ini.

Karena sebuah gempa dahsyat, Pulau Nias terguncang. Kehidupan di sana pun langsung poran-porandak, termasuk mimpi Soza, yang ingin mengenyam pendidikan lagi. Padahal ia sudah sangat semangat ketika ayahnya menjanjikan hasil penjualan ternak akan digunakan untuk pendidikan Soza. Sayangnya sebelum harapan itu menjadi nyata, mimpi itu telah menjadi puing-puing bersama gempa yang baru saja terjadi.

Keadaan itu membuat orangtua Soza memutuskan untuk pindah ke sebuah desa, di seberang pulau bernama Desa Sei Balai. Namun meski begitu, mimpi Soza tidak pernah padam. Dalam lubuk hatinya ia selalu berdoa, semoga suatu hari ada kesempatan baginya untuk sekolah kembali.

“Kita harus kuat, Soza! Harus kuat. Kamu tidak boleh menangisi apa yang tidak tercapai. Bila kita optimis, penuh tekad dan positif, pasti semua harapan kita akan tercapai. Mungkin tidak sekarang, mungkin suatu hari nanti. Yang penting kita harus rajin berusaha dan berdoa. Bersabarlah, Nak.” (hal 32).

Beruntung di sana ia bertemu sahabat-sahabat yang luar biasa. Budi, Lamhot, Nila dan Ayu, menyambut kedatangan Soza dengan tangan terbuka. Mereka tanpa sungkang langsung mengajak Soza untuk menikmati masa-masa menyenangkan di desa mereka. Mengenalkan kebiasaan-kebiasaan seru yang sering mereka lakukan. Berbedaan agama dan suku tidak membuat mereka ragu dalam bersahabat dan menolong Soza.

Akan tetapi untuk mewujudkan mimpi itu Soza harus berkali-kali mengalami patah hati. Setiap kali mimpi itu hampir menjadi nyata, ada saja suatu hal yang membuat mimpi itu hanya tinggal menjadi angan. Misalnya kenyataan tentang gaji ayahnya selama bekerja tidak bisa langsung cair, atau juga  keadaan ibunya yang membuat Soza ikhlas, memberikan uang hasil jerih payahnya bersama sahabat-sahabatnya—yang seharusnya ia gunakan untuk membeli keperluan sekolah—tetapi digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

 “Terkadang ada banyak batu besar atau kecil tersandung di kaki kita saat melangkah menuju masa depan yang cerah. Jangan menyerah dan bangkitlah kembali. Jadikan batu-batu itu sebagai tanjakan atau tangga untuk menuju ke masa depan yang penuh impian nyata.” (hal 16).

Untuk meraih impiannya, Soza harus menghadapi banyak tantangan. Secara keseluruhan, novel menarik. Meski ada beberapa kekurangan yang ada misalnya kesalahan tulis dan lain sebagainya, hal itu tidak mengurangi inspirasi dan nilai-nilai pendidikan karakter yang disampaikan penulis dengan sangat baik. Lewat kisah Soza dan kawan-kawan, penulis mengajarkan arti penting tentang rasa, tolong menolong, gemar sedekah, jiwa positif, tidak mudah menyerah dan banyak lagi.

“Bersedekahlah, karena itu salah satu jalan penuh kemuliaan untuk membahagiaan orang lain yang sangat membutuhkan.” (hal 42).

Srobyong, 28 Februari 2020


SOZA, JANGAN PUTUS SEKOLAH


 

Judul               : Soza Jangan Putus Sekolah

Penulis             : Siti Fatimah Zalukhu

Penerbit           : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : Pertama, September 2019

Tebal               : 120 halaman

ISBN               : 978-602-495-113-9

Gempa berkekuatan dahsyat mengguncang Pulau Nias. Di pulau kecil itu Soza menyimpan harapan besar. Tapi harapan itu ikut hancur bersamaan dengan puing-puing yang berserakan. Soza merasa tidak lagi bisa menatap masa depannya untuk bersekolah. Ia hanya pasrah dan ikut menyebrang pulau bersama ibu bapak. Namun dalam lubuk hatinya, Soza bersikukuh untuk tetap mewujudkan impiannya.

Di sebuah desa di seberang pulau, Soza menemukan sahabat-sahabat yang luar biasa. Budi, Lamhot, Nila, dan Ayu. Meski berasal dari suku dan agama berbed,a mereka ikhlas menolong Soza. Budi sosok yang cerdas dan kreatif mengajak teman-teman membantu Soza agar tidak putus sekolah. Namun begitu, apakah Soza masih tetap bisa melanjutkan sekolahnya? Apa yang harus dilakukan Budi dan sahabat yang lain demi membantu Soza agar tidak putus sekolah? Yuk, baca novel ini sampai tuntas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *