Mengenal Lebih Dekat Penulis Lintang: Aku Sayang Nabi Muhammad

Mengenal Lebih Dekat Penulis Lintang: Aku Sayang Nabi Muhammad

Assalaamu’alaykum..

Allow, temans.. saya mau cerita tentang buku perdana saya, yaitu buku cerita anak berjudul “Aku Sayang Nabi Muhammad”. Sebelumnya, tulisan saya muncul keroyokan bersama teman-teman penulis lain dalam buku antologi. Ada sekitar 20-an antologi, di antaranya: Gado-Gado Poligami (Quanta-Elex Media Komputindo), Let’s Enjoy The School (Gurita-Dzikrul Kids), Catatan Hati Ibunda (Asma Nadia Publishing House), dan bersama PenerbitIndiva dalamkumcerremaja yang keren, “My Stupid Love”.

Munculnya ide untukmenulis buku “AkuSayangNabi Muhammad” diawali oleh keprihatinan saya terhadap kondisi anak-anak sekarang. Mereka digempur oleh beragam cerita dari berbagai belahan dunia, baik dari Asia, Eropa, Amerika, sehingga kepedulian pada kisah nabinya, makin menipis. Kala itu, saya masih menjadi guru TK.

Saya menyaksikan anak-anak di sekolah dengan lancar dan fasih bertutur tentangNabi Muhammad, kapan dan di mana lahirnya, siapa ayah ibuny ajuga kakek dan pamannya. Dan ternyata cukup sekian. Ketika mereka melanjutkan kejenjang pendidikan berikut, pengetahuan tentang Nabi Muhammad tidak bertambah. Bahkan yang lebih menyedihkan, pengetahuan di TK yang masih sedikit itu, ada juga yang kemudian menguap.

Di toko-toko buku, tidak sedikit bertebaran buku-buku kisah Nabi Muhammad. Tapi alangkah nelangsanya ketika saya melihat dan mendengar ada anak yang ditawari ibunya sebuah buku kisah Rasul, dia menjawab, ah.. males ah, kalau cerita nabi. Saya berpikir, bagaimana caranya membuat kisah Rasul yang menarik bagi anak-anak. Lalu terbetiklah ide untuk menulis cerita dengan tokoh anak-anak, yang di dalamnya terselip kisah Nabi Muhammad.

Saya mulai menyusun draft, dengan menghadirkan sepasang kakak beradik yang sedang berlibur di desa selama sepekan. Dalam setiap harinya, mewakili satu tema besar. Misal: hari Senin tentang kelahiran dan masa kanak-kanak, hari Selasa tentang keluarganya, dan seterusnya. Makanya, judul awal adalah: Sepekan di Desa Mengenal Nabi Muhammad, yang disingkat menjadi SENDAL Nabi Muhammad. Tapi atas pertimbangan redaksi, judul diganti menjadi “Aku Sayang Nabi Muhammad”. Dan saya suka judul baru itu..J Setelah saya pikir, judul lama memang terlalu panjang, dan ketika disingkat terkesan meniru Sepatu Dahlan..J

Saya menulis cerita ini merujuk pada beberapa referensi yang insya Allah tepercaya. Karena ini menyangkut kisah Nabi Muhammad, saya tidak mau gegabah menampilkan episode yang masih dalam kategori agak meragukan.Saya berharap semua tergolong mutawatir.

Meski buku ini buku cerita anak, tapi orang dewasa juga bisa ikut membaca, lho. Beberapa bagian kisah Nabi Muhammad yang hadir dalam buku ini, tentang mukjizatnya, keluarganya, perang-perang dengan kaum penentang Islam, dan lain-lain. Kisah-kisah ini bisa menambah pengetahuan bagi semua kalangan.

Cerita tentang Nabi Muhammad dalam buku ini muncul dari percakapan dan interaksi tokoh utama dengan lingkungan sekitar. Semua digambarkan wajar dan alami. Tokoh yang terlibat bukan hanya ustadz atau tokoh agama, tapi juga orang-orang biasa, seperti: ibu rumah tangga, tukang layang-layang, tukang bubur, pedagang kelinci, dan lainnya. Hal ini untuk menyadarkan pembaca bahwa semua orang memang harus memiliki pengetahuan tentang kisah Nabi Muhammad dan meneladaninya.

Dalam penulisan cerita ini, saya mendapat arahan dari mentor di kelas menulis online, yaitu seorang penulis cerita anak yang sudah senior dan telah melahirkan ratusan karya. Beliau adalah Bunda Ary Nilandari.

Ok, itu behind the scene “Aku Sayang Nabi Muhammad”, dan sekarang. Saya mau cerita sedikit tentang saya.. hehe.. penulis unyu macam saya, pasti banyak yang belum kenal, kan? Tak kenal maka ta’aruf..J

Kita awali dengan kapan saya mulai suka menulis. Boleh dibilang saya tergolong terlambat, karena baru mulai suka menulis pada penghujung 2010. Waktu itu saya baru punya akun facebook. Saya melihat orang-orang membuat note, lalu tebersit keinginan untuk bisa menulis note di fb. Wah, pertama kali menulis, susaaahh dan laamaaa. Lalu saya melihat ada pengumuman audisi-audisi menulis.Saya coba-coba memberanikan diri ikut. Dan, subhanallah.. saya lolos pada pengalaman pertama mengikuti audisi tersebut. Proyek audisi itu berjudul “Mother Bukan Monster” yang pimpro-ny aadalah TiasTatanka dan Gola Gong.Saya ternganga-nganga ketika itu. Sungguh tidak menyangka. Dalam kegembiraan yang membuncah, rasa percaya diri mulai tumbuh. Setelah itu, saya mulai rajin mengikuti audisi menulis. Beberapa menang, dan banyak juga yang terlempar kalah.Tapi saya terus semangatberlatih.

Kalau membicarakan penulis favorit, saya sulit menyebutsatu nama. Ada banyak penulis yang saya suka. Kebanyakan penulis lokal, Karena sejujurnya, bacaan buku luar masih sedikit. Saya suka Tasaro GK, Ifa Avianty, Sinta Yudisia, Afifah Afra, Tere Liye, Khaled Hosseini, Dan Brown, dan banyak lagi. Untuk genre ceraku syg nabi muhammadita anak, saya suka Ary Nilandari, Shabrina Ws, Road Dahl, Enid Blyton, dan lain-lain.

Selain suka menulis cerita anak, saya juga kerap menulis cerita dewasa. Tapi untuk genre dewasa, saya belum menghasilkan novel, masih suka bergelut dengan cerpen. Salah satu cerpen saya, pernah menang dalam Lomba Cerpen yang diselenggarakan oleh Majalah UMMI, pada tahun 2012.Cerpen saya itu berjudul “Senja”.

Saat ini saya adalah guru di sebuah SMP Islam Terpadu di kota saya, Sukabumi. Saya juga ibu dari empat orang anak. Sejak kecil saya sangat suka membaca. Dan alangkah senangnya, kini pun saya mulai menapaki jalan menulis. Karena itu temans, jangan pesimis, merasa tidak bisa menulis. Menulis bisa dilatih. Bila ada kemauan, pasti bisa. Yang diperlukan adalah ketajaman rasa dan pikir, yang dipadu dengan ketulusan hati.Jangan lupa, luruskan niat juga ya?

Ditulis oleh Penulis Lintang: Aku Sayang Nabi Muhammad, Linda Satibi.

MELL SHALIHA: DARI TKI, MENJADILAH NOVELIS ANDAL

MELL SHALIHA: DARI TKI, MENJADILAH NOVELIS ANDAL

Wawancara dengan Mell Shaliha, Penulis Novel The Dream in Taipei City

Oleh: Ayoe

Mell Shaliha_featured image

Semilir angin membuai dedaunan hingga terlihat liuk-liuknya

Tanah perlahan mengeras karena air enggan bertandang

Hawa panas bergelut dengan sejuk oksigen hasil racikan asam arang dan air

Matahari tetap menjadi pemeran utama

Pelaku nomor satu

Dia tak tergantikan

*penulis sebenarnya ingin membuat puisi seputar Gunung Kidul, tapi kok malah terkesan ngalor-ngidul #plak.

* * *

Assalamu’alaikum Indivalovers,

Kali ini penulis akan mengupas tuntas tentang seorang penulis berbakat yang biasa dipanggil Mell. Nama penanya Mell Shaliha. Tahu dong ya? Itu tuh yang meracik novel The Dream In Taipei City yang baru diterbitkan sebulan, sudah cetak ulang. Tak kenal maka ta’aruf *hehe.. kenalan dulu yuk sama Mbak Mell. *sodorin tangan.

The dream in taipei city

Penulis yang mempunyai nama asli Ermawati ini berasal dari sebuah daerah yang “katanya” berada di atas kota Jogja, belum pelosok dan tidak susah air, Gunung Kidul. Seusai lulus SMK Perhotelan, Mell bekerja selama setahun menjadi SPG di salah satu mall di Jogja. Namun karena penghasilannya belum cukup untuk merealisasikan mimpinya untuk kuliah dengan biaya sendiri, akhirnya Mell nekad kerja di luar negeri.

Selain karena dorongan pendidikan, Mell juga didorong untuk mencari pengalaman lebih. Mell ingin mempraktikkan bahasa Inggris dengan orang asing. Mell berhasil menginjakkan kaki di negeri Cina dan berhasil mewujudkan keinginan terpendamnya, ingin bertemu dengan Andy Lau alias Yoko dan ingin bertemu dengan Bibi Leung. *Hahaha… ada-ada saja.

Tak tanggung-tanggung, Mell bekerja di Hongkong sejak tahun 2004 sampai awal tahun 2010, enam tahun. Pekerjaannya? Sama halnya dengan buruh migran lainnya, yakni menjadi pembantu rumah tangga. Eits, tapi jangan salah. Biarpun hanya menjadi PRT dan hanya lulusan SMK, daya gedor Mell dalam hal tulis-menulis itu sungguh sangat luar biasa. Coba deh cek hasil karya Mell, berapa judul novel yang sudah dituliskan tangan emasnya? Banyak kan?

Nah, balik lagi ke cerita Mell ketika masih bekerja di Hongkong. “Alhamdulillah di Hongkong saya dapat employer yang demokratis, mengizinkan saya berjilbab dan beribadah, itu tidak sama dengan BMI (Buruh Migran Indonesia) lain, Mbak. Jadi saya pikir itulah jalan Allah untuk saya.” Jawab Mell ketika ditanya soal pengalamannya bekerja di sana.

Mell melanjutkan ceritanya, “Pengalaman kerja di luar negeri jelas berat. Saya harus bisa membagi waktu dengan baik. Orang Hongkong tidak suka dengan keterlambatan, sangat detail dan disiplin dalam segala hal. Dalam 24 jam, saya kadang hanya tidur 4-5 jam. Karena pekerjaan saya super banget, saya harus mengurus dua anak yang masih SD. Segala  keperluan belajar dan kesehariannya tidak boleh luput dari perhatian. Dan repotnya, saya harus mendampingi kegiatan belajar hingga mengerjakan PR. Orang Hongkong tidak selalu bisa berbahasa Inggris, jadi saya harus mengajari anak-anak untuk itu. Saya akan dihukum jika menggunakan bahasa nasional Hongkong dengan anak-anak (Kantonis), karena mereka harus bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Di sisi lain, saya juga merawat nenek yang usianya 92 tahun dalam satu rumah juga. Nenek tidak bisa berbahasa Inggris, jadi saya harus menggunakan dua bahasa setiap hari (tapi ada untungnya jadi terbiasa dengan bahasa Cina). Pekerjaan lain adalah pekerjaan rumah, tau kan? Membuat sarapan wajib, mengurus seragam anak, membantu nenek sarapan, mencuci, bersih-bersih all room every day, belanja ke pasar, memasak, memandikan nenek, mengantar anak-anak les di luar kegiatan sekolah dan mengepel dua kali dalam sehari. *jangan dibayangin. Kadang saya menulis setelah jam 12 malam selama 1-2 jam.

Jika Deadline (karena saya dipilih menjadi kontributor tabloid dwi mingguan  yang terbit di Hongkong sejak 2007 sampai sekarang) saya tidur hanya 2 jam saja. Saya pergi liputan dan ke forum jika hari minggu, itu juga libur saya dua minggu sekali. Liputan mendadak, misal ada BMI yang bunuh diri, saya harus bisa mencuri waktu dan kabur untuk liputan ke TKP. Sebenarnya majikan tahu saya suka kabur dan menitipkan nenek duduk di mall sementara anak-anak sekolah, tapi mereka tidak pernah protes karena takut saya pulang Indonesia.”

Pengalaman  yang sangat super tersebut nyatanya mampu menjadikan sosok Mell yang sekarang. Sekarang, masuk ke proses kreatif, ya? Mell mengaku pernah mengikuti training kepenulisan. Setahun bisa sekali sampai dua kali saat FLP Hongkong mengadakan workshop, selebihnya sharing dengan teman-teman FLP, dan banyak membaca buku.

Ketika ditanya apa yang memotivasinya hingga keluarlah keinginan melahirkan karya, Mell menjawab dengan jujur. “Jika saya tidak bisa menjadi penulis, lantas mau jadi apa? Melihat teman-teman bisa meraih cita-cita menjadi guru (cita-cita saya dulu jadi guru bahasa) dan sukses dengan gelar mereka, saya terlecut untuk move on, mengambil jalan lain dan tidak mau setengah-setengah. Jadi saya terus belajar secara otodidak bagaimana mengolah ide menjadi cerita dengan banyak membaca karya orang lain, menonton (drama, berita, dll.), dan sharing.”

Lecutan motivasi Mell dalam merealisasikan mimpinya untuk menulis telah mengantarkannya melahirkan novel terbaru yang berjudul The Dream In Taipei City. Novel yang bersetting di Taiwan ini ternyata terinspirasi dari tokoh  drama Korea dan Taiwan. “Kebanyakan inspirasi saya memang dari cowok-cowok cakep mbak,” kelakarnya. “Pertama, saya harus menyukai tokoh dulu baru mencari inspirasi. Langkah selanjutnya adalah bagaimana biar saya bisa dekat dengan mereka secara invisible.” lanjutnya.

Pengalamannya selama 6 tahun di Hongkong tentunya sangat membekas dan hidup selamanya di benak seorang Mell. Mell paham situasi negara Cina, baik dari budaya dan keadaannya. Kepahamannya itulah yang menjadi latar dalam cerita sesuai pengalaman. Benar saja, mari kita lihat, hampir semua karya Mell berbau Cina. *hmm… penulis manggut-manggut.

Berbicara soal karya, novel pertama Mell yang berhasil terbit berjudul Xie Xie N De Ai (Hongkong, Terima kasih Untuk Cintamu). Novel ini terbit tahun 2011 dan berhasil cetak ulang. Kesuksesannya di novel pertamanya ini membuat Mell semakin percaya diri untuk menghasilkan karya-karya lain.

 

dream p

Penghargaan yang berhasil Mell raih di antaranya: Juara 2 Menulis Esay kreatif FLPHK 2008, Juara 2 Lomba cipta puisi Tabloid Apa Kabar Indonesia 2008, dan Juara harapan 1 Lomba cerpen Lingkungan Hidup 2008.

Terakhir, pesan Mell untuk u teman-teman yang sebenarnya jago nulis, tetapi belum mau menuliskannya ke dalam sebuah karya, karena masih takut-takut, ini nih:

  • Percaya diri agar tidak malu disaat karya kita dibaca orang lain.
  •  Jangan menutup diri dari lingkungan dan lebih baik banyak bergaul serta belajar dari semua peristiwa yang selalu kita jumpai.
  • Jangan takut kritikan. Siapkan mental saat tulisan kita ditolak, berpikir positif terhadap masukan dari orang lain/pembaca, karena itu juga demi kemajuan karya kita.
  • Menjaga hubungan baik dengan penerbit, editor, lingkungan, dan bersaing secara smart dengan sesama penulis. Juga, bergabung dalam komunitas kepenulisan baik melalui media maupun langsung.
  •   Terapkan jam terbang setiap hari untuk menulis.

Sip bin yahud bukan? Dengan membaca budaya Cina, Mell mampu melahirkan karya. Terima kasih Mbak Mell atas waktunya. Semoga sukses selalu dan istiqomah berkarya. 🙂

Wassalamu’alaikum.

(Ditulis oleh Ayoe). 

Info detil novel THE DREAM IN TAIPEI CITY

Azzura Dayana, Penulis Sarat Prestasi yang Hobi Traveling

Azzura Dayana, Penulis Sarat Prestasi yang Hobi Traveling

Yana_IBF AWARD

Mendung menyapa di pagi buta

Segerombolan hujan bergelayut di ria di ujung awan hitam

Serasa mengejek mentari yang sinarnya tak sanggup menembus dinding kokoh sang awan

#hasyeh…

Selamat pagi menuju siang, kawan. Apa kabar semua? Insya Allah selalu dalam lindungan Allah swt., yak? Kali ini penulis akan sedikit mengulas dan memaparkan salah satu profil penulis ‘unggulan’ Indiva. Azzzura Dayana. Pernah dengar? Akrab di telinga kan? Itu lho yang berhasil menyabet penghargaan buku fiksi dewasa terbaik 2014 oleh IKAPI dlm Islamic Book Fair Award. Hebat bukan? Sangat.

Kemarin penulis sempat mengadakan ‘wawancara’ dengan Mbak Yana–begitu dia terbiasa disapa. Nah, tidak usah basa-basi biar tidak jadi basi dan bikin penasaran di hati, yuk mari kita cek satu-satu hasil wawancara penulis dengan mbak Yana.

Mbak Yana asli Palembang, ya?

Asli Palembang tulen sebenarnya tidak. Bapak asli Tanjung Batu, Sumsel. Ibu asli Kayuagung, Sumsel. Keduanya lahir dan besar di Palembang, ibukota Sumsel. Saya pun lahir dan besar di Palembang.

Palembang terkenal dengan empek-empek kan ya? Mbak Yana sendiri termasuk empek-empek holic atau justru punya makanan favorit dari daerah lain? Misal Rawon yang dari Solo? *hehe…

Saya suka pempek, walaupun bukan termasuk pempek holic. Jarang orang Palembang yang tidak suka pempek. Oh iya, yang baku itu pempek, ya, bukan empek-empek. (penulis ‘ngeplak’ kepala sendiri… malu) Hehe… Selain pempek, saya menyukai makanan-makanan khas Palembang yang lain, misalnya, martabak HAR (sejenis martabak telur), mie celor, dan lain-lain.

Oke. Kita masuk ke proses kreatif, ya, mbak? Mbak Yana mulai mencintai dunia tulis menulis sejak kapan?

Suka menulis dongeng sejak SD. Saya meniru-niru dongeng yang ada di Majalah Bobo. Namun, mulai menekuni aktivitas menulis dengan lebih serius sejak mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP) Sumsel bersama teman-teman pada tahun 2000.

Kalau boleh tahu, karya pertama Mbak Yana apa? Puisi? Cerpen? Atau justru langsung menggarap novel?

Pertama-tama, saya menulis beberapa cerpen. Beberapa berhasil dibukukan bersama cerpen teman-teman FLP Sumsel. Setelah itu mulai tertarik menulis novel, karena saya kok kalau nulis cerpen suka kepanjangan. Ternyata saya lebih suka menulis dalam bentuk novel. Sepertinya dengan menulis novel saya bisa leluasa menuangkan ide-ide dan mengembangkannya. Sedangkan kalau menulis cerpen kan terbatas halamannya. Ibaratnya, saya itu lebih senang menulis di ruangan yang luas (novel) daripada di ruangan yang sempit (cerpen). Begitu istilahnya. 🙂

Karya pertama yang dibukukan oleh penerbit berjudul apa mbak?

Kumcer bersama teman-teman FLP Sumsel. Judulnya “Kucing Tiga Warna”, diterbitkan oleh Asy-Syaamil, Bandung, pada tahun 2002. Ada tiga cerpen saya di buku itu.

Oh iya, mbak Yana kemarin menyabet gelar di IBF Award untuk kategori novel fiksi dewasa terbaik kan yak? Selamat Mbak..^^ Altitude –3676 Mahameru… saya suka sekali novel itu. Bisa diceritakan proses kreatif pembuatan novel tersebut bagaimana?

Alhamdulillaah… Proses menulisnya berlangsung selama total dua bulan. Inspirasinya tentulah dari perjalanan saya ke Gunung Semeru bersama teman-teman pendaki. Sebelumnya, saya melakukan perjalanan dari Sumatera ke Jawa, lalu ke Sulawesi Selatan, setelah itu kembali ke Jawa Timur dan melakukan pendakian Mahameru. Konsep novel telah saya buat sejak seminggu sebelum perjalanan itu, dan sekembalinya ke rumah lagi, saya mulai menulis novel tersebut.

Ngomong-ngomong, penghargaan yang mbak Yana raih apa saja ya?

Penghargaan lomba menulis tingkat nasional yang diraih:

Pertama, Juara Ketiga Lomba Menulis Novel Remaja Islami yang diadakan oleh Gema Insani Press (GIP) pada 2003. Judul novel: ALABASTER, diterbitkan GIP pada 2004.

Kedua, Juara Kedua Sayembara Cerpen Festival Kreativitas Pemuda yang diadakan oleh Creative Writing Institute, dengan judul cerpen LAMPION.

Ketiga, Juara Kedua Lomba Novel Islami yang diadakan Harian Republika pada 2011, dengan judul TAHTA MAHAMERU, diterbitkan pada 2012. Novel inilah yang kemudian direvisi cetak sebagai ALTITUDE 3676 setelah berpindah penerbit ke Indiva Media Kreasi.

Keempat, penghargaan Buku Fiksi Dewasa Terbaik 2014 dari IKAPI – IBF 2014 untuk novel Altitude 3676.

Kalau dilihat-lihat, novel-novel tulisan mbak Yana selalu berhubungan dengan traveling, gunung –back to nature.  Sebenarnya, apa alasan di balik ini semua? (eh.. kaya apa ya? :v…) apa karena mbak Yana hobi traveling atau…???

Benar. Ini semua karena hobi traveling dan menjelajah negeri. Selain itu karena saya memang suka menggambarkan secara detail tempat yang pernah saya kunjungi. Menurut saya, latar yang visual dan pekat akan sangat menunjang kualitas sebuah novel yang baik. Juga karena perjalanan adalah tema yang terus-menerus menarik, tidak akan pernah membosankan.

Sampai saat ini, Mbak sudah menerbitkan berapa novel?

Ada delapan novel termasuk Altitude 3676. Salah satu di antara novel tersebut adalah karya duet bersama Mbak Ifa Avianty, judulnya RANU.

Lanjut, ya, mbak? Apa hikmah terbesar dan terdahsyat yang Mbak dapat setelah menerbitkan beberapa novel dan akhirnya menjadi penulis yang mulai diperhitungkan di belantika kepenulisan di Indonesia?

Berkat menjadi penulis seperti ini, saya memiliki banyak rekan penulis dan pembaca yang secara langsung dan tidak langsung telah menjadi sahabat-sahabat saya. Sahabat tentu saja adalah anugerah yang sungguh istimewa bagi makhluk sosial seperti kita. Keistiqomahan menuliskan kebaikan berimbas kebaikan demi kebaikan yang kita terima tanpa kita sangka-sangka dari sesama manusia. Juga yang terutama, kebaikan berubah barokah dan pahala dari Allah swt. Hal inilah yang menyebabkan saya semakin ingin terus bertahan di dunia kepenulisan.

Adakah pesan dan kiat yang ingin mbak sampaikan kepada masyarakat awam yang ingin sekali menulis, tetapi masih malu-malu untuk menggerakkan tangannya meraih bolpen atau keyboard laptop?

Awali dengan niat yang baik dan untuk berbagi kebaikan. Motivasi pertama adalah bahwa kita menulis untuk ‘mengabadikan’ diri kita. Menulis adalah untuk menyampaikan bahwa kita pernah ada. Motivasi kedua adalah dengan menulis, kita bisa berbagi kebaikan, keindahan, dan kebahagiaan. Tak ada yang merugikan dari aktivitas menulis, kecuali kita menuliskan keburukan. Oleh karena itu, lekaslah menulis dan jangan ragu lagi! 🙂

Terakhir nih Mbak. Harapan untuk Penerbit Indiva ke depan apa yaah kira-kira? *kepo habis.

Semoga Indiva tetap menjadi PARTNER saya yang OKE. Pemasarannya semakin luas dengan strategi-strategi promosi yang semakin keren. Insya Allah, kesuksesan demi kesuksesan akan kita raih bersama-sama. Dan setelah Altitude 3676 ini, mudah-mudahan segera hadir persembahan terbaik kita lagi untuk para pembaca. Insya Allah, aamiin.

Aamiin.

Benar-benar super, kan?

 

(Wawancara: Ayu Wulandari)