Puisi untuk Al Aqsha dari Sahabat Indiva

Puisi untuk Al Aqsha dari Sahabat Indiva

al-aqsa_mosque2

 

Liya Khansa Sabiha

Wahaii kaum muslim
bertatih² engkau pertahankan Al aqsa
Tak peduli harta dan nyawa
Semua kau pertaruhkan demi jihad fii sabilillah
Wahaiii kaum muslim yang mulia
Engkaulla khalifah pejuang dijalan alloh
Tuhan,jagalah mereka yg berjihad dijalanMU .
Lindungi dan selamatkan mereka.amin

 

Intan Amelia Basran

Kaum muslim dan muslimah
Berjuang demi Al Aqsa
lelahmu jadi semangatmu demi Allah SWT

Saudara-saudaraku…
Sungguh kami kagum…
Sungguh kami terharu…
Kalian begitu berbudi luhur
Kami mendukungmu segenap hati kami…

Kaum muslim dan muslimah
Beriring bersama mempertahankan Al Aqsa
Teruslah berjuang…
Sampai usahamu dijabah oleh Allah SWT…
Amin…amin ya robbalalamin

 

Elirika Aliyah

Tangis dan bunyi ledakan berbaur menjadi satu. Anak-anak yang seharusnya berkembang baik penuh keceriaan. Kini harus ikut menjadi korban kekejian negara nista. Seluruh badan terpenuhi dengan darah. Gelisahlah yang terus menggelayuti. Tiada ketenangan dan kelegaan yang ada. Pistol terus membelakangi punggung kalian. Pertentanganlah yang nantinya membawa hal buruk. Saudara semuslim dan seislam. Banyak dari pelosok negara yang mendoakan kalian disana. Teruslah berdo’a dan berzikir pada Allah yang maha kuasa. Berjuang, lindungi masjid Al-Aqsa sebagai tempat yang penuh rahmat. Jangan biarkan kaki nista negara penuh zalim mengotori tempat tersebut. Berjuang sampai akhir hayat kalian. Allah selalu mendengar do’a kalian. KUN FAYAKUN jadilah maka jadi. Hiks..

 

Kelola

Nani Setiani

 

Tanah Al-Aqsa adalah tempat di mana perjalanan Nabi Muhammad di malam hari untuk nemperjuangkan umat islam jangan pernah kita untuk mundur dakam nemperjuangkan tanah Al-Aqsa tetap lah semangat dalam nemperjuangkan ya tetap selalu berdoa Ke pada Allah SWT untuk tetap bersama umat islam di dunia ALLAHUAKBAR

 

Abdurrahmansyah

Teruntuk saudaraku,
Nun jauh di Palestina sana
Berjanjilah padaku tuk selalu berusaha,
Menjaga Al-Aqsa dari tangan-tangan keji bisikan syaitan

Genggam semangatmu
Percaya Malaikat menyaksikan dan berpihak padamu

Enyahkan risaumu
Percaya Allah SWT ada disana
Bersiap lihatkan kebesarannya,
Kekuatannya

Teruntuk Saudaraku,
Nun jauh di Palestina sana
Maafkan aku,
Sebab tak dapat ikut menjaganya
Hanya bait-bait syahdu bernama doalah,
Yang dapat kuikusertakan dalam jihadmu

 

Indah Bunda Nadia

Teriakan takbir pembakar semangat
Angkat senjata lawan tirani

Gemuruh takbir membahana
Kumpulkan tenaga melawan ISRAEL durjana

Lantang takbir sebarkan berita
Galang dana selagi bisa

Rintihan takbir harus dijaga
Walaupun doa jangan dilupa

Bebaskan Al Aqsa Palestina
Bersama kita bisa

 

Mutiara Penakhluk Peradaban

 

Bismillah….

Di negara indonesia aku dilahirkan
Di negara itu pulalah kuinjakkan kakiku..
Namun betapa teriris hati ini mendengar kabar saudariku yang ada di palestina

meskipun kita dilahirkan di dalam suatu negara yang berbeda..
Namun kalian adalah saudaraku
Kita memiliki agama serta aqidah yang sama

Di tengah kedzoliman kaum kafir
Kalian lebih memilih tetap tinggal di sana
Demi memperthankan Al Aqsa
Demi Memperjuangkan islam
Walau harus nyawa yang kau korbankan
Sungguh keimanan kalian luar biasa

Teruslah berjuang
Teruslah bersabar
Sesungguhnya surga abadi telah menanti kalian semua
Di sini kami hanya bisa menguatkan dengan doa dan dakwah

 

Nzladzkiafz

Assalamualaikum…

Indonesia tempatku menangis pertama kali
Menginjakkan kaki di bumi pertiwi
Namun, Tuhan berkehendak lain
Ia timpakan bencana pada saudaraku di Palestine

Di antara kaumkafir yang terus menzolimi
Selalu ada jerit isak tangis anak anak setiap hari
Pinta dan doa “Allah selamatkan kami!”
Menggelegar tak henti henti

Allah… Allah… Laaila Ha Illallah
Ya Allah, selamatkanlah saudaraku
Ya Allah, selamatkanlah saudariku
Saudara saudari umat muslim seagama sejalan di jalanMu ya Allah

Para penduduk Al Aqsa
Berjuanglah, bertawakkallah
Sesungguhnya ada istana untuk kalian di surga sana
Berdoa lah
Aku yakin esok kalian sudah bebas

Al Aqsa tomorrow will be free

 

Laily Fitriani

Cinta Untuk Al-Quds
Aroma syuhada membumbung tinggi menuju Rabbul Izzati
Duhai saudaraku fillah
Al -Aqsa kembali bergolak
Deru kebencian Israel kembali membabi buta
Memporak-porandaan kedamaian.
Doa-doa terpanjatkan keharibaan Ilahi.
Semangat juang terus menyala.
Al-Aqsa cinta kedamaian kita
Al-Aqsa bumi cinta kita.
Al-Aqsa suara kerinduan kita.
Wahau saudaraku fillah
Semoga Allah menyelamatkan Al-Quds kita.
Semoga Allah selalu mengabulkan doa-doa kita.
Semoga jasa para syuhada menjadi semangat kita untuk terus berjuang demi Al-Quds.
Hingga titik darah penghabisan.
Amiin.

 

Vera Vixenza

Karena mereka selalu percaya
Akan janji Allah
Mereka percaya bahwa Allah akan selalu bersama mereka
Menemani hari-hari meraka
Desah nafas-Nya, di relung hati-Nya
Allahhu Albar,Allahhu Akbar
Gemuruh takbir itu akan selalu terdengar di bumi Palestina Tercinta
Bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku

 

Sunnabil Udb #KuisPeci

Disana,
Tumpahan darah
Bom yang meledak tak tahu arah
Rintihan tangis yang menyayat manah
Bangunan yang runtuh terjerambah
Seolah bergulir ramah
Menyapa muslim berhati tabah

Disini,
Manusia asyik dengan dunianya sendiri
Seolah tak peduli
Saudara seiman,
Sedang dalam musibah yang parah
Disini,
Manusia menghamburkan uang sana-sini
Dimana hati nurani?

Israel yang kejam,
Apa yang kau inginkan?

Hak asasi kau rampas,
Anak-anak kau bunuh sekali tebas
Mulut mereka tak kau ijinkan memakan walau sepotong roti yang sudah mengeras.
Lalu, Al-aqsa juga mau kau rampas?

Palestinaku,
Saudaraku,
Selalu tabahkan hatimu,
Perjuangkan Al-aqsamu,
Kulayangkan doa untukmu,
Allah mencintaimu, selalu.

 

 

 

Naila Yumna Salsabila

Secarik Surat dari Anak-anak Palestina

Aku iri denganmu…
Ketika kau terbangun oleh suara merdu Ibumu,
Disuguhi sepiring roti dan susu
Kemudian sebuah bus menjemputmu menuju tempat menimba ilmu.

Sedangkan kami?
Kemana Ibuku? Dimana Ayahku? Dan pagi yang seharusnya penuh canda tawa adik-adikku?

Fajar kami hanya disambut suara rudal dan peluru.
Atau sirine ambulance yang datang menjemput tangis anak-anak mencari ibu.
Bahkan sang surya pun takut untuk menampakkan diri dan tersenyum padaku.

Ah, sungguh aku iri
Kau punya tempat mengadu yang terkadang tak kau syukuri
Yang menyambutmu sepulang bermain
Dan seorang ayah, yang mengantarmu sekolah

Namun, kenapa mereka menyakiti ibuku?
Menembak ayahku?
Kenapa mereka terjunkan rudal untuk mengambil teman-temanku?
Merampas tanahku,
Tempat ibadahku.

Kemanakah keadilan itu?
Kenapa kami tak diberikan hak yang diberikan padamu?

Apakah hanya karena kami anak-anak Palestina?
Atau…
Apakah karena kami menganut agama yang berbeda?

Siangmu dipenuhi canda tawa,
Bermain, bersuka ria,

Sedang kami, adakah kesempatan bagi kami untuk tak menangis barang sebentar saja?

Pemandangan kami hanya jet-jet yang berlalu lalang,
Yang selalu kau dikagumi, ketika pesawat-pesawat itu melintas di langitmu yang penuh awan.

Dan kemanakah langit kami yang biru?
Ketahuilah, mereka telah menyulapnya menjadi kelabu,
Mengusir sang mentari yang selalu ada di buku gambarmu.

Dan, lihatlah…
Sungai kami merah,
Tanah kami penuh pertumpahan darah

Bukankah dunia penuh ketidak-adilan?

Tapi tenang saja, kami yakin, kami akan menang.
Islam akan menang.
Tolong kami, meski hanya dengan do’a.

Berikanlah padaku kertas bekas kapal-kapal-anmu
Aku ingin menulis surat pada Ibu
Bahwa aku merindukannya,
Sangat merindukannya
Dan ingin bertanya,
Apakah bertemu ayah di surga?
Apakah bertemu adik, juga teman-temanku di sana?

Sungguh…
Aku … menginginkan mereka…

 

Aura Miauw

Wahai Kaum Muslim
Yang Sedang Berjuang Mati-matian Demi Menjaga Al-Aqsa
Semangatlah Disana Dan Jangan Menyerah

Kau Mati-matian Dan Hanya Makan Dengan Sedikit
Sementara Kami Berbahagia dan makan dengan Kenyang

Wahai Kau Penjaga Al-Aqsa
Jangan Takut Jangan Ragu
Karna Allah selalu Ada Disisimu

Jangan Gelisah dan Takut
Kami selalu Mendoakanmu
Kami Yakin Kau Pasti Bisa

Kami Ada Disisimu
Jangan Menyerah
Berjuanglah

Lailaha ilaullah
Subhanallah
Berjuang lah dan jangan menyerah

 

Sunnabil Udb

Sebait doa ini kulayangkan,
Untuk mereka, saudaraku yang sedang berperang,
Melawan israel yang kejam.

Saat aku tahu,
Mereka sedang berduka,
Meneteslah air mata,
Sebab ini raga,
Tak dapat membantu mereka,

Kita asyik main handphone,
Kita berteriak mendengar notif hape,
Kita memubadzirkan makanan,
Kita asyik foya-foya, menghamburkan uang,
Kita tak peduli nasihat orang tua,

Sementara disana,
Tangan gemetar memegang senjata,
Menjerit. Menyebut lafadz Allah.
Ketika mendengar ledakan bom yang membabi buta,

Merengek-rengek demi sepotong roti,
Menangis pilu melihat kerabat gugur syahid.

Israel laknatullah.
Kau bunuh anak kami,
Kau bunuh saudara kami,
Kau bunuh kerabat kami,
Kau bunuh tetangga kami,
Kau bunuh orang tua kami,
Kau telah merampas semuanya.

Kau rampas hak asasi kami,
Kau rampas tempat tinggal kami,
Kau rampas sepotong roti milik kami,
Kami masih bersabar, menyebut nama-Nya, lagi.
Tapi, kali ini,
Ketika kau larang kami beribadah dimasjid kami, Al-aqsa
Kami tak kan tinggal diam.

Dengan bersenjata iman,
Bertenaga doa,
Berkekuatan yang membara,
Dengan iming-iming masuk surga,
Kami maju, Allahu Akbar!

Ini Palestina kami,
Al-quds kami,
Al-aqsa kami,
Ini milik kami!

(Untuk saudara seiman disana, bumi palestina tercinta,)

 

Fazahra Akmila

Jarak~
Kita mungkin sehasta atau beribu kilometer,
Aku tak tahu pasti,
karena tak sanggup melipat jarak

Kita tak pernah bersua,
saling senyumpun tak juga
apalagi bertegur sapa.
Saat kamu di sakiti
akupun sakit,
Walau berbeda aku tak bisa hanya diam.

Walau tak sama untuk angkat senjata,
Menjaga Al Aqsa kiblat pertama,
Menjaga tiap jengkal tanah,
Menjaga keluarga dari zionis hina,
Hingga menjemput sebaik-baik kematian.

Jarak,
bukan alasan tak cinta
bukan penyebab hilangnya rasa,
tapi bersatu hati dan jiwa
Lewat doa yang dibawa angin,
Lewat rindu bersama awan,
Karena langit kita sama.

Maafkan aku, Gaza…
Hanya itu yang kupunya,
tak ada apa-apanya…

 

Yuta

PERTARUHAN
Kau di sana dan aku di sini
Kau berteriak lantang walau terancam mati
Aku di sini hanya bisa berdoa di hati

Kau berjuang demi menjaga Al Aqsa
Aku masih seperti biasa, hanya bisa membantu doa

Kau berani menepis senjata yang begundal itu arahkan kepadamu
Aku di sini, seperti biasa hanya bisa melihat kabarmu dengan tangis haru

Ah, andai aku bersama denganmu di sana
Ah, andai aku berada di sisimu menjaga Al Aqsa
Ah, andai dan andai … Ya Rabb, kirimkan pasukan Ya Rabb
Ya Rabb semoga sebelum kau cabut nyawa dari tubuh ini, kau beriku kesempatan berada di garda depan menghadapi para zionis yang makin lama makin tak tahu diri

 

TERLAMBAT MENGENALMU

Kemarin aku tidak mengenalmu, apa yang terjadi denganmu, mengapa kamu dibegitukan
Namun, kini tak ada lagi tabir yang menutupimu dariku
Kabarmu viral di berbagai timeline media sosial

Kau, kau tertindas
Kau, kau dizalimi
Kau, kau menderita di rumahmu sendiri

Maaf, aku baru kenal kamu sekarang
Maaf, aku terlambat untuk mengenalmu lebih dekat

Sekarang, walau hanya doa dan sedikit yang bisa kuberikan
Semoga mampu menuliskan namaku di sejarah perjuangan membebaskanmu

Kau, para penjaga Al Aqsa
Kau, para pejuang Palestina

 

Selasa Puisi

Selasa Puisi

Yeni Mulati Ahmad
Aku ingin menggunting rindu

Mungkin ada sisi yang perih

Mungkin ada sisi yang cabik

Tetapi, ketimbang rindu ini acak tak berwujud

Tak apa kan kuraih sebilah gunting

Izinkan aku mengacak-acak rindu

Sejenak aja

Kau cukup pejamkan mata

Sembari menahan perih

Lalu, bukalah sesaat kemudian

Kau akan lihat, sebentuk sulaman indah

Percayalah

Sulaman itu

Kubuat khusus untukmu

 

Niken Harena
Awan mendung menghias siang ini

Berarak-arak berkumpul mencipta sunyi

Juga angin yang bertiup sesekali

Menambah syahdu dalam hati

Akankah Desember ini kelabu?

Berhias rintik hujan mengharu biru

Ataukah Desember ini kan ceria?

Mencipta indah cerita penuh warna

Meski ketetapan tlah tertulis dengan pena-Nya

Namun, suasana bisa dicipta

Mendung, hujan, terang pasti silih berganti

Bersama keyakinan kan kucipta pelangi

Lilik Kurniawan
Hari pertama….

Aku membau wangi tubuhmu yang sekelebat

Kagum, meski tak sempat kulihat wajahmu

Hari kedua….

Tak sengaja aku bertemu denganmu

Bahkan menyapa

Dan aku masih tak yakin akan skenario Tuhan atas pertemuan itu

Hari ketiga….

Semakin banyak kudengar dan kucari tahu tentang semua kebaikanmu

Bahkan saat kau memberi sedekah ilmu kepada jiwa yang haus akan pengetahuan

Aku pun tahu

Anak-anak TPA itu

Hari keempat….

Rasa ini semakin terombang-ambing oleh pucuk-pucuk daun yang menyapu hatiku saat tertimpa angin

Merindumu di saat tak kunjung kucium baumu

Tak mendengar namamu disebut oleh teman-teman sebangku

Ada rasa yang tak mau kucerita kepada sesiapa pun dia

Hari kelima….

Aku benar-benar malu akan rasaku

Cair senyumku melihat kau datang dengan seutas senyum yang sejatinya aku yakin itu untuk aku

Cemberut mukaku saat kau bercengkerama dengan teman-temanku

Bahkan, marah jika kau abaikan aku

Hari keenam….

Kapan kau melamarku?

Penantian yang tak pernah dia tahu jika aku sedang menantimu

Sungguh…

Mungkin benar kata orang jika sakitnya itu ada di sini

Atau aku hanya benar-benar bermimpi?

Hari ketujuh….

Pupus sudah asaku

Menantimu yang tak kunjung tahu tentang rasaku

Bahkan sekadar bertanya kepada teman karibku tentang rasaku

Mengapa?

Apakah aku tak pantas untukmu?

Hari kedelapan yang tak pernah ada

Maka, aku meminta satu detik kepada Tuhan

Ya … satu detik saja, Tuhan

Itu bilangan waktu terkecil yang aku minta agar aku bisa mengatakan

Sejak pertemuan di hari pertama aku sudah mencintaimu

Tapi rupanya….

Satu detik pun rasanya tak mampu untuk mewakili cintaku

Maka, kuputuskan untuk diam

Diam dalam cinta yang tak pernah aku katakan

Biarlah sedekah cinta ini aku rengkuh sendiri hingga jodohku tiba

Kapan?

Dalam ikhtiar dan tawakalku

 

Isnatul Ilmi

 

“Itu bunga apa?”

Tanganmu menelusup di jemariku

Kataku, kemarau telah berlalu

Saatnya menyemai benih yang telah kita rawat pada masa yang kerap kita keluhkan

Berjuta benih

Mata elangmu menatap penuh tanya padaku

“Seperti cinta?”

Seperti cinta yang selalu kita siram dengan buliran embun

Subhanallah

Alhamdulillah

Laa ilaha illallah

Allahu akbar

Ah

Kukecup keningmu mesra

Kuusap hangat punggungmu

Masa setiap tunas bertumbuh

Jamur, polong, umbi, dan setiap yang didamba

Sembari mencabut seminya ilalang, cendawan cantik, atau rumput yang berebut mengangkasa

Masa ini semua bersemi, termasuk senyum, rindu, dan kasih yang terangkum dalam tetes air penuh berkah

“Termasuk bunga itu?”

Termasuk bunga itu

Kurengkuh tubuhmu dalam dekapku

Dingin mulai menggigit

Dan senja telah lama menyapa

“Itu bunga apa, Bunda?”

Desember

Menunggu kekasih hati memeluk hiasan

Jiwa

 
Lilik Kurniawan

 Udara nafas kecil ini terasa hangat

Bertemu dengan degup jantungku yang terasa lelah hari ini

Kuikat beberapa kali agar jarit ini tak begitu saja hempaskan dia

Sembari kupandang langit yang mengabu

Rintik air yang terus bertutur sedari sore

Anak lelakiku

Kamu anakku milik masa depanmu

Dan aku, ayahmu, sangat berharap doa tulus dari kesalihanmu

 
Fitri Areta
Aku menjerit saat kau menumpahkan rinai hujan di atas kelambu kamarku

Bukankah purnama seharusnya di sini, menemaniku?

Tapi, wajahnya tak kutemui di penghujung malamku

Malam kian menggigil dalam pekatnya malam

Rindu berbaur menjadi asa yang berkepanjangan

Desemberku pergi, menjauh di keheningan malam

Sedangkan aku selalu menanti bersama secangkir kopi hitam

Ke mana kau, Desember?

Sampai lelah secangkir rinduku menunggumu

 
Barroh Mudawamah
Bulan itu Desember

Awal mula kebahagiaan tercipta

Keping demi keping bayangan

Berloncatan dalam angan

Merajut selaksa senyuman

Ya, Desember itu

Engkau hadir di kehidupan

Perlahan namun pasti

Menawarkan madu di tengah getirnya ujian

Bukan takdir jika tak mungkin

Tuhan berkehendak lain, Sayang

Desember itu bukan untukku

Belum saatnya

Bahkan hingga lima purnama

Desember masih dalam harapan

 
Totok Utomo
Ibu

Facebook

Hubungannya erat sekali

Setiap hari

Sehabis mandi

Selesai makan

Sehabis apa pun

Dalam hatiku

Aku berpikir

Mau ke mana gerangankah ia?

Notebook

Tapi….

Apa yang selalu ia lihat di notebook?

Facebook!

Setiap hari

Tawanya menggema

Sampai kapankah

Hubungan erat antara ibu dan facebook?

Mungkin sampai akhir hayatnya

Notebooknya akan dibawanya

Ke surga….

 
Fatcha Qolba
Sepotong kasih secuil hati

Seberkas pancaran cahaya kelabu

Pun setetes rinai kehampaan

Ruang ragu bernama kenangan

Rintik-rintik hujan memori

Meraja meramu jiwa kelu

Desember tetes hati tergugu

Riak jiwa tak beranjak

Biar sakit biar ngilu

Lika-liku telah bergaris

Palung hati berasa akhirRidho-Nya meraja lelaku

 

Marliana Kuswati
Desember, izinkan aku mengadu

Ada sekuncup rindu

Hendak mekar di batas menggebu

Dan gairah luruh layu

Desember, boleh aku mengungkit?

Patah di tengah seperti rakit

Jawara renang tenggelam di tengah parit

 

Dina Muslimah
Memang bukan dulu yang aku kenal

Warna milikku telah pudar dalam kurun waktu

Menjadi warna semu

Warna yang begitu padu

Bagai pelangi syahdu

Tak kutemui dalam setiap hariku

Kesemuan telah menutupi keindahan itu

Retorika rindu pancarkan warna baru

Namun, kuyakin itu masih dalam kesemuan

Kucoba mencari warna yang dulu menawan

Yang menghias dengan ketulusan

Di setiap lorong tak kutemukan kemurnian

Memang warna itu bukan warna yang dulu

Biarlah warna itu menjadi kenangan

Kenangan yang menghiasi kehidupan

 
Diah Cmut
Kirim seribu rajut

Aku takkan bergayut

Sekali pun cemas memagut

Tiadalah rayu terpaut

Cermin membuka dusta

Luka di balik topeng cinta

Tiadalah sesal terkuak dusta

Sepotong senyum pembias manisnya kata

Hei, pesona ragu!

Tak lelahkah mengangkat dagu?

Sedang hatimu terlanjur gagu

Untuk mengecap cinta yang berlagu

 

 

 

PUISI UNTUK PALESTINA DARI SAHABAT INDIVA

PUISI UNTUK PALESTINA DARI SAHABAT INDIVA

Palestina, kami persembahkan puisi ini untukmu…

Puisi I

TAK SEDARAH, TAK SETANAH

Aku berjalan bertatap muka dengan banyak orang

Senyum sekejap

Lalu berlalu

Itu aku ulangi setiap hari setiap ketemu orang

Aku bukan orang acuh atau suka menipu dengan senyum

Saudara ku di PALESTINA, mungkin sampai bila bila kita tak kan pernah ketemu di dunia ini, aku berempati

Maaf sampai kini, aku tak bisa menapak ditanahmu, aku harapkan dari jauh tanah mu tetap subur dan makmur

PALESTINA, negeri dan saudara disana aku mohonkan

Tetaplah bahagia di sana, kelak kan Allah beri yg terbaik

By Lihin ‏@Lihinzaki 

Puisi II

Hamparan tanah merah bersimbah darah para syuhada..meneriakan takbir berulang melawan para zionis yg meraja

Air mata penuh harap dan mulut yang tak henti untuk berdo’a memohon perdamaian untuk keduanya

Merindukan kenyamanan

Keluh kesah tak lagi jadi rintihan

Semangat juang yang kian membara

Tuhan.. inikah rasa sayang-Mu? Jalan-Mu untuk kembali ke surga?

Inikah cara-Mu untuk menghapus segala dosa?

Mata yang tak lagi bisa tertutup melepas lelah

Tak akan ada rsa takut di hati

Tak akan ada tangis

Semua berjuang mengumandangkan takbir untuk tanah Palestina ini

by Amalia Nugroho ‏@Nimah_Amaliah 

Puisi III

Berderu bagai angin di tengah hening malam

Tertatih namun tak henti melangkah

Ada harap ditiap lempar kerikilmu

Ada rindu akan sebuah kemerdekaan tanpa paksa

Ada getar haru manakala kau dapati masjid itu kembali

Kau tak berpaling dan tak ragu

Bahwa janji itu pasti

Kemenangan itu untuk para syuhada-Mu

Kemenangan abadi

Lembayung senja merapatkan semangat di tiap malam yang tak menentu

Entah akan bagaimana mentari esok hari

Namun raga tak pernah bosan dan jengah

Karna hati telah terpaut pada negri ini

Tanah air tercinta, Palestina

by aisyah tsabita ‏@aisytsabiit 

Puisi IV

-BUKAN SALAH KALIAN-

Saat airmata darah mulai berlimpah

Bukan salah kalian hidup dinegeri Palestina, Bukan…

Mungkin nirwana enggan menyelimuti

Saat teriakan berubah mnjadi keheningan

Karna semua tlah berpulang pada-Nya

Mungkin nirwana enggan menyelimuti

Saat teriakan berubah menjadi keheningan

Karna semua tlah berpulang pada-Nya

Kalian hanya jiwa-jiwa yang diselimuti cahaya Illahi

Meski dengan itu, nyawapun mulai tumbang setiap detik. Bertahanlah…

Wahai Palestinaku akan kurangkul dalam kheningan pinta pada Tuhan

Agar deritamu terhenti

Karena itu bukan salah kalian

By Dina ‏@AdDinaKhalim 

Puisi V

Dari Sungai Yordania ke laut Tengah, zaitun dan lemon yang kami tanam subur oleh darah syuhada

dari Rafah ke Haifa, tanah, air, dan udara yang kami punya tinggal cerita

Darah tak berarti luka

Air mata tak berarti putus asak

Karena merdeka adalah cita-cita

 Tetaplah berdiri, negeri dg pasir serupa emas

Jangan tunduk, kibarkan bendera di gunung Nablus dan kibarkan keffiyehmu tinggi-tinggi!

Tegakkan kepala dan kepalkan tangan, sesaat lagi kembali ke rumah bukanlah sebuah angan

by Dini #442 ‏@ddardianty 

Puisi VI

Mungkin saat ini kamilah yang terlihat ‘baik’,

Tapi, kami tau kalianlah yang lebih ‘baik’ bagi TUHAN

Karena kalian PALESTINA

PALESTINA tahu, mereka istimewa

PALESTINA tau, ‘menang’ itu nyata

Karena PALESTINA tau, TUHAN SELALU ADA

PALESTINA lebih dari kata, PALESTINA lebih dari nama

Karena PALESTINA, keajaiban yang nyata

Mereka lebih tegar dari karang

Mereka lebih kokoh dari baja

Mereka lebih berkilau dari permata

Karena mereka PALESTINA

Telah KAU tuangkan cinta untuk palestina, dengan cara-Mu yang penuh rahasia

Tapi satu hal yang nyata, yakni kemenangan untuk mereka

by Amatul Machabbah ‏@iamtl1694 

Puisi VII

Palestina, Kau yang telah banyak teraniaya, Kau yang telah selalu terpenjara, Kau yang telah sering terhina

Kau telah banyak menampung do’a, Kau juga telah banyak menerima kuasa-Nya, Kau juga banyak melimpahi surga-Nya

dan Palestina, sungguh DIA selalu ada bersama kuasa dan jannah-Nya sebagai hadiah terindah untukmu, Palestina

by Isnania ‏@isnania_nha 

Puisi VIII

doa tak henti terpanjatkan walau perang tak pernah dihentikan usaha tak pernah kelelahan

Walau nyawa semakin banyak yang melayang

Harapan tak pernah pudar walau mereka tau entah sampai kapan

Mereka warga Palestina bukan manusia biasa

Mereka pejuang bahkan tanpa memandang usia

Mereka hebat mereka kuat

Mereka yakin Tuhan adalah segala dari segalanya

Semangat Palestina, Tuhan dibelakangmu dan kita semua di sini masih dan tetap mendukungmu

by itha febriyanti ‏@ietthue17 

Puisi IX

Palestina negeri yang di rahmati Allah. Palestina kiblat pertama umat Islam. Palestina tanah para Syuhada

Syuhada yang tak kenal lelah dalam perjuangn

Syuhada yang tidak takut mati untuk mencapai Jihad fi Sabilillah

Ya Robbi Tidak hilang di ingatanku, saat saudara-saudaraku terbujur kaku.

Saat Ibu yang kehilangan anaknya

Ya Allah… Tidak akan hilang di pikiranku saat bangunan megah dlm skejp hancur disebabkan oleh zionis Israel

Harapan itu masih ada!

Kemenangan!

Wahai para pejuang Palestina

Janji Allah itu pasti

Dan syurgapun menanti

By MuhimatulMufidah ‏@Mufidah89 

Puisi X

Puing-puing air mata jatuh merobek tanah, nanar terlihat ketika negara Islam, Palestina tertarih dibanjiri darah

Anak-anak berteriak, enggan tertawa karena luka, senyumnya hanya sebatas tali seutas, hilang ternoda

Teriris hati untuk menggapai, memeluk dalamnya cinta, ketika semua berduka di atas bangunan beton yang tertawa

Nyinyir nyanyian malam menderu bagai gejolak air mendidih dengan tangan yang terkepal, doa menalir disetiap sujud

Aku tahu, meski tangan tak kotor, tidur tak gelisah, tapi hati bagai tersayat silet meraung untukmu, Palestina

by Galih M. S. S.Pd ‏@galihmaulanas 

Puisi XI

Di tumpukan batu ada tubuh yg kaku,bbrapa menjadi abu!

Di tubuh yg lain darah membasah,peluh dipecut gelisah!

Anak-anak usia belasan,bahkan sekian tahunan merapat-rapatkan barisan dengan batu-batu erat digenggam tangan

Oh Palestina,bagaimana bsa kami menutup mata dan telinga?

Sedang pedihmu begitu dekat,melekat di tangis-tangis tak bersekat!

Entah berapa lagi tubuh yang hidupnya kan dirampas, demi juang yang tak tuntas!

Di tanah ini kutulis duka untukmu palestina

Kumakamkan tubuh-tubuh syuhada, di bibirku yang tak lelah mengucap doa-doa.

Merdekalah, Palestina

By Perempuan Mata Hujan ‏@RaniMalewa  15h

Puisi XII

Dengan segenap kesombongan, serta senjata yang kau banggakan, kau datang !

Ingin mengancurkan tempat nabi-nabi dilahirkan

Tangisan, jeritan, dan suara bom yang kau jatuhkan, sungguh pilu bukan? Tetapi di mana hatimu?

Mereka tak salah, mereka hanya makhluk yang lemah, yag tak kenal lelah, berjuang demi ridho-NYA di bumi Palestina

Dengan segala keberaniannya

Mereka berusaha melawan senjatamu, hanya dengan sebuah batu, yang tak sebanding denganmu

Semua awal pasti ada akhir, dan akhirilah peperanganmu dengan kemenangan, Allah selalu bersama kalian

by DifaRyana ‏@fyyenni214_ 

Puisi XIII

Ya Allah, bagaikan daun di musim gugur, syuhada-Mu terus berjatuhan, di negeri Palestina

Palestina, negeri tanpa rasa aman. Darah bagaikan benda tak berharga

kuberdiri di negeri Palestina, bagaikan menyapa malaikat Maut, merenggang nyawa menuju surga

Ya Allah, melihat negeri Palestina, bagaikan melihat penjajahan di masa Jepang

ingin kuberandai, bukan menjadi putri Cinderella. yang kuingin hanya menjadi pejuang fi sabilillah Palestina

by raihanatun ‏@raihanatun1 

Puisi XIV

Termenung kau berkisah, tentang bocah pemungut batu itu.

Ada luka dalam bara matamu

Terkisahkan tentang mereka, meremas nadi kemanusiaan. seorang bocah cilik mengenggam bara

Kau tertunduk, menyeka bulir hangat, merengkuh resah. jemarimu bergetar mengusap kepalaku

seperti bara yg tak pernah padam, melucuti kepongahan Yahudi, merintas badai dengan kokoh, jadilah seperti itu

Kakek berkisah padaku, pada kami, tuk teladani bocah pemungut bara itu

by Yurie Zhafiera ‏@GGZhafiera_Yuri 

Puisi XV

Adakah yang serupa dari tanah quds yang berselimut duka

Tiap detiknya bermandikan hujan peluru dan mesiu

Adakah yang percaya akan puing-puing sepanjang jalan

Tiap jengkalnya semerbak mewangi darah para syuhada

Adakah yg merasa jiwa2 tak berdosa bukan bagian darinya

Tiap geraknya tersendat sekadar mengulurkan tangan

Adakah yang berusaha membuka mata hati di luar sana

Tiap benaknya bergemuruh doa, pekik takbir membahana

5Lalu, adakah yang lebih indah dari surga yang Allah janjikan?

By Khadijah ‏@dijahku 

Puisi XVI

Kota dengan kemuliaan yang membara

Perlahan demi perlahan kota itu merapuh bahkan pula tubuh-tubuh tak berdosa

Mereka terbunuh. Itu tidak adil ! Namun mereka masih mengagungkan nama dan kalimat Allah

Mereka percaya, semburan peluru nakal itu membawa mereka lebih dekat dgn Sang pencipta dan surga-Nya

Terima kasih untuk pembunuh terbaik

Mampu menjadikan kota palestina penuh limpahan doa

Kelak waktu akan menunjukan bahwa perilakumu trhadap mereka akan menjadi boomerang

By AFA ‏@Afifah_Furry 

Puisi XVII

By Rina Darmalegi ‏@rina_uhuru77 

Puisi XVIII

Dentum peluru melahap Mengoyak jiwa dalam kubangan anyir

Sungguh biadab Israil Meluluh lantakkan para syuhada

Merebut bumi tanpa rasa Hancurkan warga tak berdosa

 Jerit tangis tak ada guna

Hati zionis mati rasa

Kalut hati tercipta

Melihat saudara tersiksa

Namun, kian aku terngangah

Melihat keberanian Gaza Mental baja

Tegap berdiri di laga

Menantang nyawa Menunggu surge

 Duhai,pendekar Allah

Keberanianmu sungguh luar biasa

Selaksa hati ini berdoa

Semoga kasih menjamah dalam dekap-Nya

Beradu wangi penduduk langit Menjamu para syuhada

By Ratnani_El_kazuhana @ratnaShinju2chi ·

Puisi XIX

Menjejaki kaki di Bumi Gaza

Terasa bagaikan di Surga maya

Mereka sentiasa berjuang Fisabilillah

Mempertahankan bumi tanah Islam

Kau miliki iman teguh

Nyalakan obor agama, tidak pernah kenal berputus as

Di belenggu agresi, kau tempuh dengan berani

La Tahzan Rabbuna Ma’ana wahai saudara Palestinaku

By Ani Nur Hidayah @ani_INH ·

Puisi XX

Palestina, tanah suci negeri para nabi dan syuhada

Palestina, tanah yang tidak pernah berhenti berjuang

Berjuang membela agama Allah

Dengan darah dan luka yang tak pernah kering membekas

Meresap ke dalam bumi-Nya

Syuhada yang tak pernah lelah mengorbankan nyawa demi agamanya dan negerinya.Pengorbanan yang takkan sia-sia

Mereka yakin, Tuhannya tak pernah ingkar janji

Pengorbanannya akan terbalas oleh wanginya surgawi

Ketika nyawa melayang,sudah terbayang oleh mereka keindahan surga yang membentang dan mereka kekal didalamnya

By Mayliya @R_Mayliya ·

Puisi XXI

Palestina, negri para syuhada.

Negri merdeka yang tak merdeka

Desing peluru dan rudal sudah menjadi hal biasa.

Tak secuil pun hati gentar demi negri tercinta.

Walau harus dibayar nyawa.

Kerikil batu anak2 Palestina

selalu menciutkan nyali zionis yang merajalela.

Wahai zionis!

Jangan harap kau bisa dapat tanah Palestina dengan sukarela

Saudaraku Palestina, terimakasih atas segala upaya.

Do’a dan usaha kami pun tak henti untuk kemenangan Palestina

Ingatlah, suatu hari kemerdekaan akan mutlak engkau dapat.

Tetaplah kuat wahai saudaraku, Palestina

By Khoerotun Nisa’ @Khoerotun_nisa ·

Puisi XXII

JUNDULLAH

Kala ribuan nyawa Muslim terkapar syahid: oleh musuh Allah yang sengit

Pembunuh gila kekuasaan: patutlah laku persis hewan

Kalian boleh membumbung tawa kepuasan

Kau lupa? Allah Maha teliti tetiap perbuatan

Biarlah Jundullah angkat senjata tuk membela: Muslim Palestina

By Khanah Tsurayya @khanahtsurayya ·

Puisi XXIII

meriam rudal jatuh rela

menghujami tanah ladang kita

sesak dada debu kaca

mengundang pasti pasrah diri

tangantangan terikat pada mimpi

lepas

bebas

warna membias

munajat doa mengibar bendera

kuasa tuhan tiada kira

karena Tuhan

juga dilahirkan di tanah kita

beranak pinak ditanah kita

menyimpan cinta

biarlah mereka apa kata

karena kitalah para syudaha
syahid mulia

by Alfansuri~ @alfansuri08

Puisi XXIV

Di tanah PALESTINA Ktika shalat isya;

Malam kelam mencekam Deru laras bersahutan Rudal terbang;

cahya kematian

Ketika shalat subuh ;

Pagi terasa petang

 Sama saja tiada berubah

Tetap kelam seperti malam

Mimpi buruk datang

Ketika shalat dzuhur;

Siang menjelang Serasa hidup telanjang

Diambang pintu kematian

Ketika shalat ashar;

Sore kini tiba Nyawa masih dalam raga,

Hidup dalam penantian

Ketika shalat maghrib;

Dag dig dug Suara jantung kian menegang

Menunggu waktu memanggil untuk siap DISHALATI

By Abu_Abu kelam @Abu_Abukelam

Puisi XXV

Engkau membara dalam lautan syuhada saat deru meriam dan tank-tank raksasa itu melontar pemutus nikmat dunia

Dan pekikan pecah membahana!

Jiwamu menuju surga, lir janji Sang Pencipta.

Juangmu berputih sukma

Demi satu kata ; merdeka

 JanjiNya itu pasti, duhai mujahid di jalan juang

engkau syahid merdekakan negeri tercinta.

Untukmu, Palestina

By K. Sylviany Sambas @Karunia_Sambas

Puisi XXVI

Mereka mencuri para ayah dari anak anaknya, mencuri suami dari istrinya, mencuri kakak dari adiknya, mencuri.

Mereka mencuri kedamaian yg mjd hak penduduk Palestin, mencuri masa depan dari jundi jundi kecil Palestin.

Mereka mencuri kemerdekaan rakyat Palestin, mencuri waktu berharga pemuda Palestin, mencuri nafas satu2nya.

Dosa terbesar manusia adlh MENCURI

Dosa yg tak kunjung mrk akhiri.Dosa yg memusnakan masa dpn sebuah negeri.

Tapi bagi pejuang Palestin, kemerdekaan adlh harga mati

Meskipun dunia mendadak tuli, tak peduli dan mati

By yunita hentika dani @YunitaHentika

Puisi XXVII

Palestina, tetap kokoh berdiri, dan akan terus berdiri.

Meski apapun terjadi, karena janji Allah pasti, Palestina merdeka

Hancur lebur Gaza, tak menyurutkan semangat mereka.

Tak ada kata menyerah!

Lawan.Lawan Israel dan Jayalah Palestina

Di malam sunyi ini, kupanjatkan doa untukmu Palestina.

Semoga Allah senantiasa merahmatimu, rakyatmu dan segalanya tentangmu

By Widya Neva @widyaneva2

Puisi XXVIII

Hai Saudaraku, awan hitam yang menyelimutimu akan tersingkir pd waktunya, Iindahnya mentari akan menyinari Negerimu

Coretan warna pelangi pancarkan keindahan beserta senyum manis tawa bahagia, Bersabarlah hingga tiba waktunya

Kesombongan yang mereka tunjukkan

Kekuatan yang mereka agung-agungkan

Bukanlah suatu hal yang mesti kau takutkan

Karena tidak ada kekuatan yang dapat melebih kekuatan dan pertolongan tuhan. Perjuangan yang engkau korbankan

Tangisan anak yang kau dengarkan

 Jerit kepedihan wanita yang merasa kehilangan

Janganlah kau jadikan kelemahan

By ⚓Afifiyatul Anis⚓ @Vifi96

Puisi XXIX

Mentari pagi datang kembali

Saat itu kau dapati luka dihati Negerimu telah disakiti

Karena kamu memilih berdiri

Berpuluh2 tahun terbelenggu

Berpuluh2 tahun menunggu

Perdamaian hanya kata semu

Banyak tubuh telah menjadi kaku

Sebagian mereka tertawa

Adakah harus menjadi seorang muslim utk membela?

Ku yakin hanya cukup jd seorang manusia

Semoga jasad yang telah pergi pulang ke syurga,

 Semoga jiwa yang hidup menemukan kedamaian dirumahnya; Palestina. :’)

By sabila @bilasabila788

Puisi XXX

Palestina oh Palestina. Beribu rudal telah menyerangmu.

Berbagai marabahaya telah menghampirimu

Bermacam luka telah kalian rasakan.

Kehilangan sanak saudara.

Kehilangan harta benda

Tapi yakin lah saudaraku, akan ada waktunya untuk kalian bersorak.

Bersorak menyerukan nama Allah

By Linskey @cumee22

ditulis oleh @ayu_wulan