judul gambar

Fenomena Fatherless dalam Novel S. Gegge Mappangewa

  • by

Oleh: Thomas Utomo

Menurut Kongres Ayah Sedunia 2017, Indonesia menduduki ranking ketiga fatherless country. Fatherless sendiri dapat diartikan sebagai ketiadaan peran ayah secara fisik dan psikologis dalam tumbuh-kembang anak. Ketidakhadiran tersebut disebabkan faktor perceraian atau pengaruh budaya patriarkat tradisional yang beranggapan tugas ayah melulu bekerja, soal pengasuhan anak diserahkan total kepada ibu.

Jika ditarik ke dalam konteks sastra, tidak banyak karya yang menyoroti perihal satu ini. Barangkali karena—seperti dikatakan Linda Christanty—dunia sastra Indonesia masih sangat maskulin. Pekerja sastra kita didominasi laki-laki. Kalaupun ada perempuan, kebanyakan, pola pikirnya tersubordinasi sisi negatif patriarkat.

Menariknya, sebagai laki-laki, S. Gegge Mappangewa—pengarang beretnis Bugis—justru cukup lantang berteriak mengkritisi fenomena fatherless lewat novel-novelnya, seperti Sajak Rindu (IMK, 2017), Sabda Luka (IMK, 2018), dan Ayah, Aku Rindu (IMK, 2020).

Dalam Sajak Rindu, tokoh Vito diasuh dan dibesarkan ibunya, sebab orang tuanya bercerai karena persoalan agama—ibunya muslim, ayahnya penganut Tolotang, agama kuno masyarakat Bugis. Dia tumbuh menjadi trouble children: suka berbohong dan biang keonaran di sekolah.

Kamaruddin, tokoh Sabda Luka, tinggal bersama ayah-ibunya, lengkap. Namun pengasuhan anak menjadi tanggung jawab ibu, ayah sibuk mengurusi bagang (keramba besar untuk menangkap ikan yang dipasang di tengah danau) dan ketinting (perahu bermotor). Interaksi penuh waktu dengan ibu, membuat Kamaruddin menjadikannya sebagai kiblat utama dalam sikap lahir-batin.

Sedangkan Rudi, tokoh Ayah, Aku Rindu, sejak kecil hidup dalam rengkuhan kasih sayang ayah-ibu. Tetapi pada masa pergolakan remaja, ibunya meninggal dan ayahnya mengalami gangguan jiwa. Berkali-kali sang ayah yang didera delusi: mengira dirinya Nene’ Mallomo—tokoh legendaris Bugis abad 17—berusaha membunuh Rudi yang diyakininya telah berbuat dosa sehingga menyebabkan Kerajaan Sidenreng Rappang dilanda kemarau panjang. Kepergian ibu menorehkan duka, tapi tidak sedalam ‘kepergian’ ayah yang ada tapi tiada. Rudi kerap mengalami feeling lost, kepalanya selalu menyunggi tanya yang membentur dinding kosong.

Merujuk Harriet Lerner (2011), ketiadaan peran penting ayah berdampak terhadap rendahnya harga diri, muncul perasaan marah dan malu karena berbeda dengan anak-anak lain, kesepian, kecemburuan dan kedukaan, kehilangan yang amat sangat, dan rendahnya kontrol diri. Inilah yang dialami Vito dan Rudi.

Sedangkan menurut Sigmund Freud (dikutip dari Lewes Kenneth, 1988), diasuh oleh seorang ibu tunggal dapat membingungkan identitas anak laki-laki. Dia menjadi kurang tegas, kurang terlibat dalam olahraga, dan kurang maskulin daripada anak laki-laki lain karena tidak bisa mencontoh sikap ayahnya. Inilah yang terjadi pada Kamaruddin.

Tetapi dibandingkan Kamaruddin, kondisi Vito dan Rudi masih lebih baik. Keduanya memiliki sosok guru laki-laki yang dapat dijadikan semacam pengganti ayah. Mereka juga terlibat dalam olahraga sebagai sarana katarsis. Sedang Kamaruddin: dia dibenci ayahnya, dimusuhi masyarakatnya, hingga memutuskan pindah dari Sulawesi Selatan ke Sulawesi Barat.

Sebagai penutup, patut dicermati pula temuan Paul Vitz (1999). Dia meneliti kehidupan para pemikir terkenal, di antaranya pemikir yang ateis, seperti Voltaire, Sartre, dan Nietzshe. Hal menarik yang dia temukan adalah ada benang merah dalam kehidupan pemikir yang ateis ini, yakni ketiadaan sosok ayah atau memiliki ayah tapi defektif (otoriter, egois, angkuh, tidak mampu dan mau mendekati anak, melakukan kekerasan fisik dan emosional). Sebaliknya, ketika meneliti pemikir yang dianggap relijius, semacam Blaise Pascal, Martin Buber, dan Chesterton, dia mendapati hadirnya sosok ayah dalam diri mereka. Kesimpulan Vitz, kehadiran ayah dalam hidup anak memberikan perasaan nyaman dan terlindung, yang merupakan benih dari keyakinan pada Tuhan. Ketiadaan sosok ini menimbulkan ruang hati yang kosong, seperti tulisan Sartre yang kira-kira sebagai berikut, “… menjadi ateis, dalam diriku, adalah semacam insting saja.” Suatu pernyataan yang menandakan bahwa kekosongan dalam hidup Sartre mengendap jauh di alam bawah sadarnya.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

judul gambar