judul gambar

Kisah Perempuan dari Seorang Lelaki

  • by

Oleh Koko Nata (Ketua Harian II BPP FLP 2017 – 2021)

Perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan yang terlihat jelas dan samar. Perbedaan yang samar itu kerap menimbulkan masalah, terutama pada perempuan dan laki-laki yang sudah terikat akad. Namun, seiring waktu justru masalah-masalah yang kerap timbul itu membuat mereka saling memahami. Tentu saja dengan syarat keduanya dapat mengambil hikmah dan mau belajar dari masalah itu.

Kedewasaan seseorang menjadi satu penentu pemahamannya terhadap lawan jenis. Seorang suami dan istri yang telah lama berumah tangga biasanya sudah memahami pasangannya. Pengalaman hidup membuat keduanya terpaksa belajar. Pada umumnya mereka sudah melewati usia kepala empat. Bagi mereka yang berusia lebih muda, tetapi bisa memahami lawan jenisnya, pastilah memiliki banyak pengalaman hidup dengan lawan jenis meskipun bukan pasangannya. Pengalaman hidup yang menimbulkan masalah tentunya. Dari masalah itulah mereka belajar, menjadi matang meskipun usia masih remaja atau dewasa muda.

Kemampuan memahami lawan jenis pada usia muda yang masih langka itulah pemantik satu pertanyaan saya kepada Rinal setelah membaca kumpulan cerpen Para Perempuan di Tanah Serambi. Sembilan belas cerpen yang tersaji di sini mengangkat konflik tokoh perempuan. Bahkan sebagian besar menggunakan sudut pandang orang pertama. Biasanya penulis menggunakan tokoh berjenis kelamin sama dengan dirinya. Apabila menggunakan lewan jenis sebagai tokoh, sudut pandang orang ketigalah yang dipakai untuk cari aman.

Saya mengajukan pertanyaan itu kepada Rinal. Mengapa menggunakan tokoh perempuan? Jawaban Rinal ternyata sesuai dugaan saya. Menurut Rinal, perempuan memiliki peran besar. “Kami punya laksamana perempuan. Bahkan sultanah. Belum lagi dalam kehidupan sehari-hari. Istri pimpinan dayah (pesantren) pun tak kalah dengan suaminya dari segi pengaruh mereka,” tulis Rinal dalam pesan singkat melalui ponsel.

Rinal juga pengamat yang baik. Sebagian cerita dalam cerpennya meskipun fiksi, realitanya pernah ditemukan dalam lingkungan kesehariannya. Maka dari itu, meski bertutur dari sudut pandang lawan jenis, pembaca masih bisa diyakinkan, tokoh cerita memang perempuan. Kita pun bisa menemukan konflik-konflik cerpen Rinal di media massa maupun tuturan orang Aceh di media sosial. Perbedaannya, Rinal mengemas cerita dengan konflik psikologis tokoh sehingga membuat pembaca dapat lebih memahami permasalahan di Aceh.

Cerpen-cerpen Rinal menggunakan tokoh perempuan Aceh pada rentang usia yang cukup lebar. Mulai dari remaja sampai lanjut usia. Tokoh remaja dapat kita temukan dalam cerpen Surat yang Kembali. Tokoh perempuan usia 60 tahunan hadir dalam cerpen Zikir Mati. Cerpen-cerpen lainnya menggunakan tokoh perempuan usia dewasa madya. Usia yang sama dengan Rinal saat menulis cerpen.

Sebagian cerita bernuansa muram, bahkan gelap dengan akhir cerita yang tidak selalu bahagia. Bagi sebagian orang yang merasa hidupnya gelap, membaca kumpulan cerpen ini dapat membuat mereka mengevaluasi diri. Hidupnya tidak semalang tokoh-tokoh cerpen Perempuan di Tanah Serambi. Beberapa cerpen bahkan memiliki akhir cerita yang terbuka. Membuat rasa penasaran pembaca makin membuncah. Belum puas.

Konflik Daerah Operasi Militer (DOM) pada 1990 – 1998 untuk menangani Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan peristiwa tsunami pada Desember 2004, menjadi latar pada sebagian besar cerpen Rinal. Surat yang Kembali, Keranda Bapak, Perempuan di Tanah Serambi, Seulanga yang Tercabik, Dayah, Perempuan Perang; merupakan cerpen-cerpen dengan akar permasalahan DOM Aceh. Perempuan yang Menari Bersama Ombak, Ketika Hujan Reda, Nyak Cut Merindukan Laut mengambil peristiwa tsunami sebagai sebab akibat cerita. Cerpen lainnya merupakan masalah sosial berlatar budaya Aceh yang juga bisa ditemukan di berbagai pelosok tanah air. Satu cerpen berlatar tokoh sejarah Laksamana Keumalahayati turut hadir dalam Bara di Dada Laksamana.

Kumpulan cerpen ini masih menyisakan satu cerita dengan tokoh utama laki-laki. Malam Qodar Haji Ramli mengisahkan lelaki paruh baya yang seolah tahu benar kedatangan malam lailatul qodar. Namun, tetap saja ada tokoh perempuan, sang istri, yang menjadi tokoh sampingan penggerak cerita. Rinal memang sengaja mengumpulkan cerpen-cerpen bertokoh perempuan saja. Soal tokoh laki-laki, “Takut mereka minder, dikelilingi tokoh utama perempuan,” tulis Rinal untuk saya.

Beberapa cerpen masih tidak lepas dari kekurangan. Misalnya cerpen Aku, Ibu, dan Nek Syiek, yang menggunakan sudut pandang orang pertama dari tiga tokoh yang berbeda. Kemiripan cara bertutur ketiga tokoh tanpa penanda berpotensi membuat pembaca bingung. Cerpen-cerpen lainnya pun ada yang terasa tanggung. Setelah 13 Tahun Bersama membuat kita merasa bagai membaca potongan novel saja.

Terlepas dari itu, berbagai kelebihan dan kekurangannya, upaya Rinal menulis dan menerbitkan kumpulan cerpen ini patut mendapat apresiasi positif. Sebagai bagian dari Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, kehadiran kumpulan cerpen ini melepas kerinduan pembaca terhadap kumpulan cerpen berlatar Aceh yang pernah marak pada awal tahun 2000. Dua puluh tahun berselang tentu banyak cerita lain dari Aceh. Saya ucapkan selamat kepada Rinal, semoga menyulut teman-teman dari Aceh untuk menceritakan juga berbagai kisah yang tidak mendapat sorotan media massa dan perhatian publik.

Selamat membaca, semoga mendapat banyak hikmah.

Para Perempuan di Tanah Serambi

Spek Buku:

Kertas bookpaper

160 halaman

14×20 cm

Kumpulan cerpen ini bertemakan perempuan dan lokalitas Aceh. Aceh terkenal dengan sejarah gemilangnya di masa lalu, jauh sebelum NKRI terbentuk. Aceh juga terkenal sebagai Serambi Mekkah, pintu masuk tersebarnya Islam ke seluruh Indonesia.

Aceh tidak pernah kalah perang dengan Belanda. Aceh menyumbang pesawat pertama Indonesia. Aceh kemudian bergelimangan darah setelah konflik mencabik-cabiknya selama puluhan tahun. Aceh yang kemudian terguncang oleh gempa bumi dan terbenam dalam lumpur tsunami. Tsunami yang menjadi pemicu lahirnya damai kembali.

Buku kumpulan cerita ini memotret setiap momen yang sudah Aceh lalui melalui sudut pandang para tokoh perempuan. Potret yang tidak selalu berisi tawa karena seringnya adalah air mata. Air mata Aceh di wajah dan hati para perempuannya.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

judul gambar