Kitab Sakti Remadja Oenggoel: Muda, Kaya, Mati Masuk Surga

Kitab Sakti

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di mana-mana perubahan sosial digerakkan oleh kelas menengah. Kelas menengah dapat dicandrai melalui tiga ukuran. Pertama, kemapanan tingkat ekonomi. Kedua, pendidikan terakhir yang ditamatkan relatif tinggi. Ketiga, memiliki peran sosial yang luas dan berarti. Sesuai dengan sunatullah, aktor perubahan sosial ini akan terus mengalami penggantian. Sesuai dengan berjalannya jelujur waktu kehidupan ini. Dan pemasok pelaku perubahan itu adalah generasi muda.

Termasuk bagian dari generasi muda ini adalah para remaja. Artinya, proses menggarap diri untuk menjadi kelas menengah agar mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi lingkungan itu seyogianya sudah dimulai dari kehidupan remaja. Sehingga ketika mereka bertumbuh menjadi kelas menengah, tidak sekadar menambah dari segi kuantitas atau jumlah saja, tapi lebih penting dari itu adalah kualitas.

Maka sejak dini, mereka harus disadarkan untuk tidak lagi berfikir bahwa mereka adalah objek perubahan, sebaliknya subjek perubahan. Tidak menyerahkan begitu saja nasib diri, lingkungan sosial, dan bangsanya kepada segolongan elit orangtua. Meminjam ungkapan Eep Saefullah Fattah dalan buku Provokasi Awal Abad (2000)—dengan sedikit revisi—para remaja harus berani merumuskan manifesto-nya sendiri saat berhadapan dengan siapapun. Termasuk ketika harus berhadapan dengan (calon) pemilik kuasa politik dan anggaran kaitannya dengan posisi para remaja sebagai pemilih pemula.

Petitih ini bukan sesuatu yang bersifat di atas langit sana. Karena secara faktual peran anak-anak muda memang penting sekali dalam proses perubahan politik melalui gerakan civil society. Mengutip nubuat Jane Foster, Kumi Naidoo, dan Marcus Akuhata-Brown via Eep Saefullah Fatah (ibid) dalam buku Youth Empowerment and Civil Society (1999): “Civil society probably needs young people much more than young people need civil society.”
alinan deskripsi yang saya dedahkan di atas kaitannya dengan buku yang tengah saya bedah ini adalah: dalam ruang pribadi pembacaan saya, buku ini dapat saya golongan sebagai bentuk manifesto itu. Bagaimana remaja memandang diri dan lingkungannya. Relasi diri dengan masyarakatnya. Serta hubungan antara ia dengan Tuhannya. Karena hakikat tiap kita adalah makhluk diri, sosial, dan Tuhan.

Pertanyaan pentingnya, manifesto seperti apa yang terdeklarasikan di buku setebal 200 halaman ini? Dalam pandangan penulisnya, manifesto itu harus dimulai terlebih dahulu dengan sesuatu yang mendasar. Yakni kesadaran tujuan manusia hidup di dunia. Di lembar ke-33 secara bernas ditulis: Manusia hidup harus punya tujuan, dan tujuan itu harus diniatin dalam rangka menunaikan segala perintah-Nya. Karena hanya dengan niat yang benar, juga dibarengi dengan praktiknya, maka hidupmu insya Allah akan selamat. Nggak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Dengan piranti teknis apa, tujuan mulia di atas hendak dicapai? Karena tetap saja meskipun tujuan hidup adalah untuk memenuhi kepentingan “langit”, manusia hidup di bumi yang terikat dengan sunatullah: ikhtiar. Artinya manusi tetap membutuhkan kausalitas natural untuk menyelenggarakan kehidupannya. Menegakkan wadag, menunaikan peran diri, dan melakukan perbaikan di lingkungan sekitar.

Ada tiga sarana teknis ditawarkan yakni pertama, mengenal diri melalui jawaban atas pertanyaan yang diformulasikan sebagai 5W+1H. Mengapa kamu ada (Why); Apa sih tujuan kamu hidup (What); Siapa sih diri kamu saat ini (Who); Sampai kapan kamu hidup (When); Di mana kamu sekarang berada (Where); Bagaimana kamu tercipta/ada (How).(hlm 21-49). Kedua, memetakan peta langkah dengan merujuk potensi dan cita-cita (misi) yang ada pada diri kita masing-masing dengan pendekatan SWOT (strenght, weakness, opportunities, thread), dan SMART (spesific, meansurable, achievable, reasonable, time limited (hlm 78-83). Ketiga membuat proposal hidup berupa pengisian kolom-kolom pencapaian spiritual, intelektual, dan fisikal serta menggambarkannya dalam bentuk peta pemikiran atau mind maping (hlm 146-157. Titik terjauh yang hendak diraih dari tiga sarana teknis di atas–kalau boleh saya sederhanakan–adalah muda, kaya, mati masuk surga.

Jadi sebenarnya buku ini diturunkan dari konsep-konsep besar dan filosofis. Tapi oleh penulisnya dihadirkan ke khalayak pembaca dengan kemasan yang menarik. Sesuai dengan modalitas bahasa dan pergaulan anak remaja sekarang. Nampak betul buku ini sengaja ditulis dengan menggunakan gaya bahasa yang mengalir, renyah, cenderung mengobrol, guyon dan dikemas dalam tampilan yang menarik nan menggerakkan, sehinga menimbulkan efek seruan: Ahaa! di tiap lembar yang kita baca.

Penuturannya pun tidak terkesan menggurui karena ditulis betul-betul dalam bahasa mengobrol, layaknya memindah bahasa lisan ke tulisan, yang pada beberapa hal saya temukan kesannya jadi sangat centil. Tiap pembahasan adalah gabungan antara kisah hikmah, referensi teori atau pendapat ahli, serta rujukan alquran dan hadits. Dan semuanya diramu dengan ikatan yang padu sehingga tidak ada kesan para pembaca sedang diceramahi.

Menekuni buku ini, para pembaca (remaja) tidak saja menjadi cakap dalam merencanakan hidupnya tapi juga timbul rasa cinta terhadap kehidupan dalam konteks yang luas yaitu semesta. Sisi menarik lainnya dari gaya penyajian buku ini adalah di tiap awal bab ada kuis berisi beberapa pertanyaan yang harus dijawab pembaca. Kuis menjadi semacam pre test sebelum pembaca mendaras lebih jauh isi di tiap bab. Tidak hanya itu. Ada pula simpulan di tiap pembahasan diwujudkan dalam bentuk jurus dan quote berupa satu dua paragraf yang merangkup pembahasan sebelumnya. Seluruhnya ada tujuh kuis, dan jurus, sesuai dengan sub judul yang dibubuhkan di kover depan buku ini: Djurus 3-1-3 Gebrak Doenia.
Meskipun begitu sebagai karya tetaplah buku ini memiliki kekurangan di sana sini. Dalam tilikan saya, ada dua kekurangan. Pertama, penggunaan analisis SWOT. Metode ini sudah mulai banyak ditinggalkan. Apa pasal? Lantaran SWOT didasarkan pada asumsi bahwa hidup adalah masalah. Maka yang muncul kemudian adalah deretan kelemahan dan ancaman yang justru hanya membuat ciut hati dan gamang saat melangkah.

Sebagai gantinya kini banyak organisasi, lembaga perusahaan, dan individu yang menggunakan analisis empati mitra. Analisis ini mereken hidup sebagai nikmat (limpah, berkah). Fokus perhatiannya adalah pada setengah penuh (optimisme), bukan setengah kosong (pesimisme). Asumsinya yang digunakan: hidup adalah keajaiban (memasukkan unsur peran Tuhan dalam setiap peristiwa). Artinya penggunaan analisis SWOT di buku ini justru menjadi paradoks tersendiri.

Kedua, saat memberikan contoh-contoh ikon atau sosok yang diniatkan bisa memberikan inspirasi ke para pembaca lebih banyak mengambil tokoh dari luar negeri. Mulai dari Mark Elliot Zuckerberg (facebook), Bill Gates (Microsoft), David cook (American Idol), Sylvester Stallone, Dale Carnegie, Thomas Alfa Edison, Hellen Kelleer, hingga John Major. Ada sih beberapa dari dalam negeri, tapi berasal dari golongan tua. Seperti Chappy Hakim, Gol A Gong, Adam Malik, Ajip Rosidi, dan Andri Wongso.

Tidak ada yang salah dalam penyebutan nama-nama ikon di atas. Hanya saja faedah sosial kurang. Kurang kontekstual, lantaran bentangan jarak waktu kehidupan antara mereka dan para remaja sekarang lebar sekali. Sehingga justru mengentalkan kesan mereka adalah tokoh-tokoh yang untouchable bagi remaja masa kini. Terlalu besar sehingga tidak mungkin dijangkau.

Padahal kalau kedua penulis buku ini mau lebih banyak membaca, banyak sekali ikon-ikon anak-anak muda di Indonesia saat ini yang layak untuk dijadikan inspirasi. Kaitannya dengan pencapaian mereka di bidang masing-masing. Sekadar menyebut contoh: Reza Nurhilman (keripik singkong pedas Maicih), Andrew Darwis (pendiri media sosial Kaskus), dan Wahyu Aditya (sekolah animasi Hellomotion). Deretan nama-nama ini dapat saya perpanjang lagi.

Informasi atas nama-nama di atas bisa langsung ditindaklanjuti oleh para pembaca (remaja) misalnya dengan menghubunginya melalui sosial media (facebook dan twitter). Meminta mereka menjadi mentor tidak hanya dalam ranah ideal (semangatnya saja), tapi juga di lapangan praksisnya. Dengan begitu, informasi yang dibentangkan tidak hanya berhenti pada sekadar tahu, tapi memantik semangat para pembaca untuk terlibat dan mengalami (action). Mempraktikkan isi buku.

Terlepas dari dua kekurangan tersebut, sebagaimana lazimnya buku, ia merupakan tesis penulisnya. Dan risiko yang paling tidak bisa dihindari ketika suatu tesis diujipublikan (diterbitkan dalam bentuk buku dan dibaca orang) adalah kemungkinan dinegasi secara total (antitesis), atau dinegasi dengan revisi (sintesa). Dan hakikat sintesis adalah tesis baru yang siap diujipublikan kembali. Mendapat antitesis, memunculkan sintesa (tesis baru). Begitu terus menerus sehingga akan bergerak menuju dan mendekati kebenaran dalam kadar yang semakin tinggi. Atas dasar rangkaian peristiwa itulah ilmu pengetahuan berkembang. Peradaban dikonstruksi dan ditegakkan. Maka ada yang menyebut bahwa menulis adalah bekerja untuk peradaban. Nah, dalam upaya membangun peradaban itulah, buku ini tepat diletakkan. Sebuah buku yang patut didaras. Sesal saya hanya satu, buku ini harusnya terbit 20 tahun lalu, saat saya masih berseragam SMU.

Judul Buku: Kitab Sakti Remadja Oenggoel
Penulis: Riawani Elyta dan Oci Yonita Marhari
Penerbit: Indivia, Cetakan I Juni 2013
Jumlah: hlm 200 halaman
Harga: Rp28.000
ISBN: 979-602-8277-95-2

Ditulis oleh Agus M. Irkham. 

Resensi ini merupakan pemenang dari Lomba Menulis Resensi Buku Indiva 2013.

 

2 thoughts on “Kitab Sakti Remadja Oenggoel: Muda, Kaya, Mati Masuk Surga

  1. anita triana says:

    buku bagus untuk anak-anak saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *